'Gadis Malang'

Guru bangsa dan sidang pembaca yang terhormat, tulisan yang berjudul ‘gadis malang’; adalah catatan reflektif. Tentang cinta, perjuangan, dan harmonisasi.
gadis malang dan guru....??
**
Hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu. Ia seperti anak panah yang terus melaju. Sehingga jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. 
Demikian penggalan syair mahakarya pujangga asal Libanon, Kahlil Gibran untuk anak-anak.

Sekiranya tepat untuk anak-anak zaman now. Anak-anak yang butuh sentuhan kasih sayang dan rasa aman dari kedua orang tuanya. Terutama di tengah hingar-bingarnya kehidupan sosial saat ini. Terkadang mereka bersuara, tetapi tak mampu bersuara. Mereka butuh pendidikan dan naungan. Kata si perajut kata, Timo Martin; seorang teman dan jurnalis hebat di bumi cenderawasih.

Ironisnya di tengah gemerlapnya kota metropolitan, anak-anak Jakarta ternyata masih dibelenggu oleh perasaan tidak didengar, apalagi dimengerti oleh orang tua. Dampaknya mereka ’berjuang’ sendiri demi mempertahankan hidup. Bahkan berjuang untuk mendapatkan sebuah rasa 'bahagia'; di rumahnya sendiri. 

Begitu pula dengan gadis paroh bayah di salah satu 'sekolah kehidupan' yang kujumpai hari ini. Sebut saja namanya, Mawar (bukan nama sebenarnya). 

 “Bapak bisa jadi pendengar buat saya?”, katanya singkat.
         
Gadis ’malang’ ini sedari tadi duduk di anak tangga lantai 3, pada sebuah 'sekolah kehidupan'. Ia tak banyak berbicara, hanya nanar menatap hiruk pikuk pelajar yang lalu lalang. sekilas disapanya dengan senyuman khas kepada guru maupun pelajar lain yang melewati lorong itu tanpa secuil ekspresi. Tatapannya kosong, menerawang, entah kemana. Selintas pandang duduknya sopan dan rapi. Namun ternyata gadis cantik ini sedari tadi sedang menahan tangisnya. 

Ketika saya menyambanginya, tangannya menengadah dibarengi senyum renyah. Senyum yang penuh harapan agar saya bisa menjadi pendengar yang memahami pergolakan batin si gadis malang ini. 

Ketika ditanya 'ada apa"?

Tidak ada jawaban, sunyi di tengah keramain yang ada. Hanya tangisan perlahan-lahan membanjiri wajah cantiknya. "Saya ingin menahanya, tetapi lama-lama bisa membuat saya nangis pak" katanya datar tanpa kontak mata sekedip pun padaku. 
Tatapannya kosong pada tembok di depan sana. bukan fokus tetapi hanya kebetulan ada ruang hampa di hadapan gadis 16 tahun itu. Sunggu kejam melebihi teroris paling sadis, jika rumah bukan lagi tempat yang dirindukan oleh putra-dan putrimu. 

Usianya masih hijau, emosi masih labil dan sedang dalam pertumbuhan. Namun ia terpaksa melakoni peran kehidupan yang teramat berat. Kondisi keluarga justru membuatnya seperti itu. Sebenarnya ia pun ingin seperti anak-anak lainnya yang bergembira ria tanpa beban, hanya belajar dan membantu orangtua sebisanya. Naman kondisi keluarga memang tidak memungkinkan gadis malang ini mendapatkan bahagia itu.

Sekiranya seorang ibu bisa membuat rumah menjadi tempat yang dirindukan, dan seorang ayah melengkapi dengan 'taman firdaus' dalam rumahnya. Gadis malang itu pasti tidak seperti itu. Ia pasti berkonsenstrasi pada belajar. Bukan menangis seorang diri di anak tangga sekolah kehidupan hari ini.

Remaja putri ini berpacu bersama waktu dan bersaing dalam dunia yang sarat perubahan dan gejolak, semoga ada secercah harapan yang datang untukmu anak muda. Doa seorang guru kampung 


 Istana terindah adalah rumah dengan kehangatan keluarga.

Demikian cerita tentang Gadis Malang. Sebuah refleksi untuk orang tua dan guru zaman now.

Catatan perjalanan dan perjumpaan, 22 November 2017, jam 11.30 WIB.  

Ananda jika engkau berada pada suatu masa. Tetap tegar dan percayalah “perjalanan ini” akan membuatmu ‘menjadi besar’.

Martin Karakabu
Guru Kampung


Baca juga artikel yang terkait dengan postingan ini;
'Gadis Malang'


Catatan Tambahan:

1.   Tulisan yang diberi judul Gadis Malang. Hadir di hadapan sidang pembaca yang terhormat dengan tujuan untuk berbagi.

2.   Tidak dimaksudkan untuk menggurui atau merasa diri paling tahu, paling hebat, dan lain sebagainya. Apabila membawa manfaat itu semua karena Tuhan. Jika tidak berfaedah, abaikan saja karena ini hanyalah celotehan seorang guru kampung biasa. Salam damai@

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "'Gadis Malang'"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel