32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas

32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas
Siswa-siswi kelas X IPS 2 (tahun 2016) saya diberi kesempatan menjadi wali kelas dari anak-anak hebat di atas/dok pribadi
“Pak jangan terlalu memikirkan kelas X 2, santai saja pak, semua akan baik-baik saja kok”, kata Efan anak Timor yang suka membantu dan tidak segan menolong jika melihat gurunya mengalami kesulitan. Itulah pesan via line yang masuk ke ponselku saat itu. “Ah Efan, baik bangat”, itu kesanku pada pria hitam manis ini. Dia muridku yang ‘paling besar’ badanya di kelas X 2, hahaee...”

Semuanya berlalu dengan cepat dan menghadirkan sejuta kesan. 7 September 2016, itu hari ulang tahunku. Lakon klasik siswa kelas X 2 ciptakan hari itu, jujur membuat saya sangat marah.  Bagimana tidak, ada saja ulah si David yang membuatku kesal, ditambah lagi idealisme dari Justin yang cenderung menciptakan ketidakharmonisan kelas; wah parah, benar-benar buatku pusing hari itu.
32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas
Hellen Yoanita, murid cerdas dan multitalenta/dok pribadi
Tiba-tiba Hellen datang menghampiriku di kantor;  “pak.............”
tidak berlanjut kemudian berlalu, karena jawaban yang kuberikan hanya tatapan sinis tanpa kata, karena saya sangat jengkel dengan masalah keterlambatan gadis ini. Jam pun berganti dan saya harus masuk kelas X 2, pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan sedikit emosi yang kutahan, melangkah dengan gonta, trak, trak, trak; langkah yang kuayunan tak beraturan, seolah mewakili perasaanku hari itu yang tidak bersahabat. Treeeeee..e..e..k, pintu kubuka, dan astaga kelas seperti kapal pecah (sebutan untuk kelas yang berantakan). Apa yang kulakukan?, hanya diam membisu sambil memperhatikan seisi kelas. Dimana yang lainya” tanya saya. “Tahu pak, di luar kali jawab Rico sekenanya saja dari pojok sana. Astaga, gusar abis de pokoknya. 

Drama tak berhenti di situ, kemudian Merlyn, seolah tanpa dosa bertanya, “emang kenapa pak?”, wah benar-benar si bocah ....”. Tak kuhiraukan pertanyaan tersebut, mungkin itu yang terbaik jika tidak emosi meledak. Begitulah kondisi pskologisku hari itu. Dengan satu harapan, cukup sudah anak-anak, jangan ciptakan drama lagi karena saya sudah dan sangat marah dengan tingkah tengil bocah-bocah ini.

Bukan harapan tersebut yang kudapat melainkan drama super kejam lagi yang dihadirkan. Rico, David, Feliks. Seolah-olah tidak memperdulikan keberadaanku malah sibuk sendiri dengan urusannya. Emosi sudah mencapai titik puncak.

Klimaks dari semuanya adalah sebagian besar dari mereka malah mondar-mandir di kelas, seolah tidak ada guru. Kemarahanpun sudah memuncak dan tak terbendung lagi, “woooooiii”; Bisa diam tidak? Hardikku dengan emosi yang sudah tidak terkontrol lagi. Belum selesai frasa tak beraturan itu terucap, pintu terbuka dan lagu selamat ulang tahun dinyayikan.
Catatan seorang guru dan wali kelas di SMA Kanaan Jakarta/Kejutan saat ulang tahun Martin Karakabu
Kejutan saat ulang tahunku dari anak-anak/dok pribadi
Sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya menghampiri meja guru kelas X 2. Wah jujur saya hampir putus napas saat itu, antara bahagia, marah, kesal, dan senang berkolaborasi menjadi satu. Hanya diam, jujur saya tidak bisa berpikir normal karena ini kejutan hari ulang tahun yang paling menakjubkan yang pernah kualami. Terima seluruh siswa kelas X IPS 2. Ini semua sangat istimewa dan bermakna buat saya. Buat JL, Nely, Hellen, Angel, dan siapa saja di balik layar dari rencana ini, hanya ada kata terima kasih dan doa yang tulus yang bisa kuujudkan buat kalian semua.

Refleksi
Untuk guru bangsa dimana saja menggabdi, lakukan pekerjaan dengan hati, buat yang terbaik dari apa yang bapak dan ibu bisa berikan untuk kebaikan para murid; maka cinta dan apresiasi akan diperoleh.
Cinta seorang guru di era yang baru tidak harus dengan disiplin yang kaku, apalagi mati gaya. Cukup dengan mendengar dan bersikap empati pada siswa, sembari maksimal bekerja maka penguasaan kelas yang baik akan jadi milikmu bapak ibu guru yang yang hebat. Setidaknya itulah pengalaman seorang guru kampung macam saya. Semoga bisa melahirkan ide kreatif baru dalam berkarya. Salam untukmu guru bangsa.


Catatan Tambahan:

Setelah keluar dari Sekolah Kristen Kanaan anak-anak ini masih memberikan kejutan-kejutan buat saya dengan cara mereka yang unik dan kadang membuat emosi. Salah satunya pada postingan saya yang berjudul Terima Kasih Anak-Anak Atas Ucapannya.
Sidang pembaca dan bapak-ibu guru perlu tahu, rahasia atau tips agar dicintai murid sebagaimana kisah saya di atas baca artikel rujukan berikut:


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "32 Tahun yang Berkesan Bersama Kuncup: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel