Antara Jakarta – Jogja saya Melihat Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan: Refleksi Live In

Antara Jakarta – Jogja saya Melihat Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan: Refleksi Live In
Peserta live in SMA Kanaan Jakarta turun dari bus/dok pribadi
Terlepas dari segala kemewahan dan hiruk pikuk perkotaan, kami siswa - siswi kelas 11 SMA Kristen Kanaan Jakarta berangkat menggunakan bus menuju Desa Plono, Pagerharjo, Samigaluh, KulonProgo, Yogyakarta, pada tanggal 27 April 2018, pukul 19.00. Sebelum berangkat tak lupa mengabadikan foto bersama.

Meskipun sudah malam, euforia dari para siswa tak surut. Suasana penuh tawa canda siswa dan irama musik menambah keramaian di dalam bus, memecah kebosanan kami yang terjebak dalam kemacetan tol Jakarta-Cikampek. Perjalanan terasa memakan waktu yang cukup lama sambil menahan rasa lapar hingga pukul tiga dini hari, akhirnya kami sampai di rest area KM 102  Tol Cipali.

Baca : Arti Hidup di Bukit ISIS


Bus berhenti, kami bergegas turun melepas kepenatan dan mengisi perut yang lapar dengan menu ala kadarnya yang ada di warung makan sekitar rest area. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Bus baru melaju beberapa saat, rasa kantuk menghampiri, saya pun tertidur kurang lebih 2 jam lamanya hingga saat terbangun saya sudah melewati gerbang Tol Cikedung.Sejauh mata memandang terlihat pegunungan dari kejauhan dan hamparan sawah menghias sisi kiri kanan jalan. Sekitar pukul 09.00, bus berhenti di daerah Bumi Ayu untuk berehat sebentar. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali melewati hamparan sawah, perbukitan dan puluhan desa. Tak terasa waktu beranjak sore ketika memasuki Desa Plono, Pagerharjo,  waktu menunjuk  sekitar pukul 16.00 ketika tiba di Gereja Kristen Plono.

Sesampai di Desa Plono Pagerharjo, kami langsung disambut dengan hangatnya senyuman dan lambaian tangan puluhan warga yang sudah menanti kedatangan kami. Sambil menyusuri jalan  desa menuju Gereja Kristen Plono yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami turun dari bus.

Baca Juga: Plono Sebuah Memori


Hal itu membuat saya kembali bersemangat untuk bertemu dengan orang tua yang akan mengasuh saya di sana. Kedatangan kami di gereja disambut baik oleh seluruh jemaat. Kami pun disuguhi makanan dan minuman sebelum acara pembukaan live-in di Desa Plono. Acara dimulai dengan kata sambutan dari pendeta Gereja Kristen Plono dan kepala sekolah SMA Kristen Kanaan. Kemudian dilanjutkan dengan serah terima baik anak maupun orangtua asuh sekaligus dibagikan buku panduan sebagai panduan kegiatan live-in. Seusai itu, kami kembali ke bus untuk mengambil barang bawaan dari Jakarta dan langsung menuju ke rumah singgah kami yang letaknya tidak terlalu jauh dari gereja.

Baca Juga: Live In di Kulon Progo

Antara Jakarta – Jogja saya Melihat Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan: Refleksi Live In
Vanessa dan Michaelle Wong bersama orang tua asuh/dok pribadi
Saya ditempatkan di rumah Bapak Jono dan Ibu Supiyati bersama dengan Michelle Wong. Sesampainya di rumah orangtua asuh, kami disuguhi teh manis hangat. Awalnya saya kaget dengan kondisi rumah yang akan saya tempati karena keadaannya sungguh jauh berbeda dari rumah yang ada di perkotaan seolah semuanya langsung berubah 180o.Keadaan rumah di sini sangat sederhana, dinding terbuat dari papan kayu tua, lantai beralaskan tanah.  Begitu pula dengan kehidupan sederhana keluarga ibu Supiyati. Namun, hal ini tidak menjadi alasan kami untuk bersungut-sungut karena salah satu tujuan dari live- in adalah beradaptasi untuk merasakan kehidupan sederhana di desa. Ketika malam menjelang, Saya dan Michelle memutuskan untuk pergi keluar rumah sekedar berjalan-jalan menikmati indahnya langit malam di desa yang dihiasi taburan bintang dan cahaya rembulan sekaligus berkunjung ke rumah teman-teman kami yang letaknya berdekatan.

Hari pertama, di rumah orangtua asuh dapat beristirahat dengan nyenyak, setelah menempuh perjalanan yang amat melelahkan hampir 21 jam berada di dalam bus. Sekitar pukul lima pagi, saya bangun dan beraktivitas bersama ibu asuh di dapur menyiapkan sarapan pagi. Tak lama kemudian saya berpamitan dengan ibu untuk mengunjungi rumah salah satu teman saya yang berada di kediaman bapak Wibisono. Saya juga membantu mereka untuk mempersiapkan bekal berupa nasi kotak yang nantinya akan dibawa untuk hiking ke Bukit Ngisis Nglinggo yang merupakan hamparan kebun teh. Namun sebelum itu, saya dijemput dan di bawa guru ke klinik terdekat untuk pemeriksaan kulit akibat gigitan serangga yang sebelumnya sudah sempat saya kabarkan kepada salah satu guru yang bertugas membawa obat-obatan. Karena tak kunjung membaik, saya di bawa ke klinik guna mendapatkan perawatan lebih lanjut dari dokter.  

Perjalanan menuju klinik  tidak begitu jauh namun karena jalanan yang menanjak dan menurun serta tikungan tajam sempat membuat kami kewalahan ditambah dengan kurangnya informasi yang kami dapatkan mengenai kawasan Samigaluh. Akhirnya, sampai juga di klinik dan setelah melalui beberapa pemeriksaan saya diberikan obat dan saleb,  kemudian kembali ke desa untuk selanjutnya mengikuti kegiatan hiking.

Kami berkumpul di gereja untuk briefing mengenai kegiatan kami saat hiking, lalu kami menaiki truk bak terbuka untuk mencapai lokasi. Sepanjang perjalanan, terlihat ribuan pepohonan rindang nan tinggi dan jurang curam yang menakutkan berada di sisi kiri kanan jalan. Perjalanan semakin mengasyikan ketika kami harus melalui jalanan yang menanjak dan menurun berkali-kali. Hal ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini kami berdiri di atas truk dan merasakan kendaraan itu melaju kencang di jalan menanjak dan menurun hanya berpegangan dengan sisi truk saja.  Sesampainya, di Bukit Ngisis Nglinggo, hari sudah siang, perjalanan dilanjutkan dengan mengintari bukit untuk sampai ke puncak. Pemandangan dari atas puncak Bukit Ngisis Nglinggo, sangat menakjubkan. Dari atas bukit dapat terlihat hijaunya hamparan kebun teh yang luas dan terbentangnya deretan pegunungan.
Antara Jakarta – Jogja saya Melihat Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan: Refleksi Live In
Vanessa dan rekan di tempatwisata bukit ISIS/dok pribadi
Menikmati udara pegunungan yang sejuk dan pemandangan yang indah, membuat saya melupakan sejenak rutinitas harian. Hati ini terasa damai dan bersyukur. Sungguh besar karya ciptaan Tuhan.

Baca: Solid Tidak Hanya Kata Tetapi Rasa


Tak jauh dari tempat kami berada terdapat juga tempat-tempat berfoto menarik nan menantang. Salah satunya adalah di mobil off-road bekas. Kawasan wisata ini cukup luas sehingga untuk menuju ke bagian puncak bukit yang letaknya lebih tinggi, kami harus menaiki ratusan anak tangga. Sesampainya di atas, kami beristirahat sambil menikmati bekal makan siang yang dibawakan orangtua asuh masing-masing. Setelah selesai menyantap makan siang, kami turun dari puncak perkebunan teh Ngisis menuju ke tempat parkir kendaraan selanjutnya kembali ke gereja dan pulang ke rumah orang tua asuh masing-masing untuk mandi dan melanjutkan kegiatan selanjutnya yakni latihan acara puncak esok malam yang ditampilkan per kelas.

Saya kembali ke rumah dan berkumpul bersama orangtua asuh untuk makan malam bersama dan berbincang-bincang mengenai keluarga besarnya yakni anak serta cucu yang datang dari Bantul maupun keseharian mereka bertani. Adapun pertanyaan-pertanyaan dari buku panduan yang harus kami isi beserta dengan kamus bahasa Jawa yang harus saya kerjakan bersama dengan ibu asuh karena saya tidak mengerti sama sekali. 

Hari kedua, sama seperti kemarin, saya bangun pagi dan membantu ibu untuk mempersiapkan sarapan pagi. Masakan ibu Supiyati memang sungguh nikmat karena itu saya tidak pernah melewatkan sarapan pagi dan makan malam bersama dan selalu saja ingin mengetahui resep masakan yang dipakai. Untuk itu, saya turut membantu ibu memasak di dapur sederhana miliknya.

Acara hari ini, kami mengadakan kegiatan pasar murah yang mana kami akan menjual sembako murah untuk setiap orangtua asuh di Desa Plono. Sebelum acara dimulai, kami dari pihak panitia penyelenggara bergegas ke rumah pendeta untuk briefing sebentar. Setelah itu bersama rekan-rekan panitia lainnya mempersiapkan sembako dan membawanya ke tempat acara pasar murah digelar. Puluhan bungkusan sembako kami susun di atas meja yang sebentar lagi akan dibagikan.

Baca Juga: Desa Plono di Mata Gadis Metropolitan


Saya kembali ke rumah untuk mengajak ibu asuh ke tempat acara pasar murah diselenggarakan. Dalam perjalanan pulang Saya mampir ke rumah teman. Di sana saya melihat teman-teman sedang bermain permainan tradisional dengan anak dari orangtua asuh mereka. Asyik melihat mereka bermain akhirnya saya memutuskan untuk ikut bermain.

Disela-sela aktivitas hari itu, untuk kedua kalinya saya diantar ke puskesmas Samigaluh 2 untuk perawatan lanjutan. Sesampai di puskesmas, saya sempat berbincang dengan salah satu pasien puskesmas yang sedang duduk di ruang antrian sambil menunggu giliran.

Menurutnya, fasilitas kesehatan terutama puskesmas di desa ini sudah cukup baik dengan akses yang dapat dijangkau dengan mudah dan pelayanannya yang baik. Ada hal yang cukup unik yang saya dapatkan di puskesmas yakni ketika ada pasien yang baru saja ingin duduk di kursi ruang antrian, mereka selalu bersalaman terlebih dahulu dengan orang lain disekitarnya  baik yang ia kenali atau tidak dan ketika ditanyakan, hal itu merupakan suatu kebiasaan yang sejak dulu mereka lakukan. Jarang sekali saya menemukan kejadian ini di rumah sakit perkotaan, semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak mempedulikan orang disekitarnya. Tak lama saya pun diantarkan kembali ke gereja untuk berkumpul dan briefing kegiatan malam puncak.

Kemudian saya bersama teman-teman yang lain diajak untuk menyaksikan pertunjukan kesenian Karawitan yang dimainkan oleh warga desa sekitar. Karawitan adalah kesenian musik tradisional Jawa yang mengacu pada permainan musik gamelan. Kesenian karawitan ini dikemas dengan alunan instrumen dan vokal yang indah sehingga enak untuk didengar dan dinikmati.

Kesenian ini merupakan kesenian klasik yang sangat terkenal di masyarakat Jawa dan Indonesia sebagai salah satu warisan seni dan budaya yang kaya akan nilai historis dan filosofis. Dapat dikatakan bahwa permainan karawitan ini cukup rumit dengan banyaknya alat musik tradisional yang dimainkan bersama-sama menjadi satu alunan musik yang padu. Sebelumnya kami juga dijelaskan mengenai apa saja alat musik yang digunakan serta cara memainkannya sehingga diakhir pertunjukan kami diberi kesempatan untuk mecoba memainkan sambil mempelajari alat-alat musik dalam kesenian ini.

Sesudah itu saya pergi ke rumah teman untuk mempersiapkan properti kabaret kelas yang masih harus dirakit untuk acara malam nanti. Saya terburu-buru pulang untuk mandi dan mempersiapkan kostum. Kemudian, saya bergegas ke gereja untuk persiapan karena kami akan tampil pertama kali di acara malam puncak. Setelah beberapa sambutan pembuka acara malam, kami menampilkan beberapa pertunjukan musik dan persembahan pujian lalu, tibalah saatnya kelas kami 11 IPA untuk tampil.

Baca Juga: Cinta Gadis Metropolitan di Kulon Progo


Cerita kabaret yang kami mainkan adalah Ramayana yakni mengenai kisah cinta klasik antara Rama dan Shinta yang sejatinya merepresentasikan makna sebuah kesetiaan, kepercayaan dan ketulusan cinta seseorang kepada kekasihnya. Namun, kami juga mengemas kabaret ini dengan sedikit komedi di beberapa adegan cerita sehingga penonton dapat terhibur. Selesai tampil, kami beristirahat sejenak sambil merapikan properti dan kostum yang kami sewa. Sebenarnya, pertunjukan kami tidak berjalan  baik karena terdapat beberapa kesalahan yang kami lakukan terkait dengan kondisi panggung namun, semuanya dapat teratasi. Acara malam kami dilanjutkan dengan makan malam bersama dan pembagian doorprize. Kami pun kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat.

Sederhana Itu Indah

Hari ketiga, saya melihat ibu ada di kebun, lalu menghampiri dan membantunya memetik daun singkong di kebun miliknya.

Siang hari ini, kami akan kembali ke Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah orangtua asuh, Saya dan Michelle berencana untuk membelikan souvenir dan bahan-bahan masak yang biasa ibu pakai. Jadi, kami memutuskan untuk pergi ke pasar Samigaluh yang letaknya dekat rumah kami.    

Saat kembali, kami mengemas barang-barang bawaan karena kami akan segera meninggalkan desa ini.. Ketika orangtua asuh kami berkumpul melambaikan tangan atas kepergian kami, saya tahu bahwa perpisahan merupakan hal yang berat . Mungkin beberapa dari kami ada yang sempat menangis namun ada juga yang tersenyum bahagia karena merasa sangat bahagia telah menyelesaikan kegiatan live-in dengan baik bersama dengan mereka. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan keluarga asuh, kami bergegas menuju bus yang akan mengantar kami berwisata ke Malioboro sebelum kembali ke Jakarta.

Kesan saya dari kegiatan live-in selama tiga hari ini adalah saya merasa sangat senang, bangga, dan puas atas semua yang telah saya lewati baik selama maupun sebelum live-in. Atas segala jerih payah baik dalam mengumpulkan dana yang kurang,  mempersiapkan kabaret kelas, membuat properti, pengumpulan sembako murah dan lain sebagainya yang sangat melelahkan. Akhirnya, kegiatan live-in dapat berlangsung dengan baik dan semua itu tidak terlepas oleh pimpinan Tuhan.

Saya juga bersyukur ditempatkan di rumah kediaman ibu Supiyati dan Bapak Jono karena mereka sangat ramah meskipun kami adalah orang asing tapi mereka mau menerima dan tetap mengasihi kami sama seperti anak mereka sendiri. Hal itu dapat dilihat dari perhatian yang selalu beliau berikan  dari hari kedatangan hingga kepulangan kami. Ibu dengan senang hati membuatkan kami sarapan dan makan malam. Terkadang beliau juga bercerita tentang kebiasaan warga desa Plono hidup rukun  diantara tetangga dan rasa toleransi yang tinggi diantara umat beragama. 

Kesederhanaan keluarga Ibu Supiyati membuat saya bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Dalam kesederhanaan masih ada kebahagian, dapat berkumpul dengan keluarga dan berbagi dengan sesama.

Baca: Antara Jakarta Jogja


Jauh dari kehidupan perkotaan, yang penuh kemewahan, sibuk dengan kegiatan masing-masing, jarang bertegur sapa. Dalam satu rumah pun, sesama anggota keluarga jarang bertemu. Orangtua berangkat bekerja pagi-pagi, pulang larut malam. Menyapa anak-anak melalui chat dihandphone. Kebahagian tak diukur dari harta kekayaan. Kebahagiaan bukan datang dari hal besar, agung, mewah dan mahal. Tetapi dari hal kecil dan sederhana. Bahagia itu sederhana.

Pesan saya selama kegiatan ini adalah jangan pernah lupa untuk bersyukur dalam hidup ini dan berbuat baiklah mulai dari hal-hal kecil. Berbagi adalah salah satu cara untuk bersyukur atas nikmat Tuhan daripada sibuk mengeluh dan menyalahkan keadaan. Sesederhana apapun kehidupan ibu Supiyati sekeluarga, mereka selalu bahagia dan saling berbagi. Berbagi tidak akan membuatmu kekurangan. Mensyukuri apa yang dilihat, yang didengar, yang dirasakan, yang dimiliki, maka kita akan merasakan kebahagiaan hidup ini. Bahagiakan diri dengan bersyukur dan melakukan hal-hal baik dan bermanfaat.* Vanessa / Editor: Martin Karakabu

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Antara Jakarta – Jogja saya Melihat Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan: Refleksi Live In "

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel