Berkomunikasi dengan Anak "Lewat Rasa"


Berkomunikasi dengan Anak "Lewat Rasa"
Sidang pembaca dan guru bangsa yang terhormat, tulisan yang saya beri judul berkomunikasi dengan anak lewat rasa. Secara umum saya membahas tentang tiga hal.

Pertama masalah anak di era digital, kedua cara menangani masalah anak pada poin pertama, dan ketiga adalah rekomendasi saya kepada sidang pembaca, terutama para guru untuk melihat permasalahan anak di sekolah. Harapannya setelah membaca tulisan ini, para guru maupun pembaca memiliki cara pandang yang berbeda terhadap persoalan remaja.
***
Internet dan remaja saat ini seperti dua keping mata uang, saling mengikat dan sulit untuk dilepaskan. Istilah  Daniel Chu, seorang konselor dan praktisi pendidikan, sebagai bentuk ‘kecanduan’ dari remaja terhadap teknologi.

Alhasil dari fenomena tersebut muncullah dua masalah utama, yaitu pornografi dan kurangnya komunikasi anak dengan keluarga. Akibatnya remaja saat ini, di dalam dirinya mengalami suatu keadaan hampa, gelisah, dan takut. “Itulah masalah utama pada remaja di tahun 2017 ini”; ujar Mr. Daniel melalui penerjemah, Miss Julia di aula SMA Kristen Kanan Jakarta.

Seminar sehari yang diadakan oleh yayasan persekolahan Kristen Kanaan, dibuka oleh Miss Julia, koordinator sekolah Kristen Kanaan Global School. Tema yang dibahas adalah “Konseling Remaja”. Hadir dalam pembicaraan tersebut staf guru dari Sekolah Kristen Kanaan Tangerang, Sekolah Kristen Kanaan Jakarta, dan Kanaan Global School (KGS).

Sebagai pembicara Daniel Chu, seorang konselor dan praktisi pendidikan Internasional, asal China. Berkewarganegaraan Amerika Serikat.

“Muka mereka yang kelihatan bahagia atau tersenyum tidak selamanya mencerminkan perasaan mereka; karena dalam diri remaja ada rasa ingin tahu yang tinggi, ada juga kehampaan, dan kecemasan yang membayangi tumbuh kembang remaja masa kini". Jelas Mr, chu lebih lanjut.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk “membentengi” remaja dari situasi zaman yang kelihatan cukup membahayakan tersebut?. Menurut Mr, Daniel ada dua hal yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah.

Pertama harus membangun kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua.

Hal ini sangat penting, sebab menurut Daniel Chu tingkah laku yang ditunjukan anak di sekolah datangnya dari rumah. Selain itu, sebagian besar waktu anak bersama orang tuanya. Atau dengan kata lain, di luar jam sekolah anak berada dalam pantauan atau pengawasan orang tua.

Kedua sebagai orang tua di rumah dan guru di sekolah harus mendengarkan siswa dengan ‘rasa’.

Maksudnya bersikap empati pada anak, dengan menempatkan posisi guru pada posisi anak; dan ikut merasakan apa yang anak rasakan. Kegelisaan, takut, dan kekosongan jiwa yang dialami remaja.

Ada tiga tips dalam membangun relasi yang harmonis antara guru di sekolah dengan siswanya.

Sebenarnya ada beberapa tips dari Mr Daniel, namun hanya tiga yang bisa saya pahami. Maklum minimnya kemampuan Bahasa Inggris.

Pertama Bersikap Empati pada Remaja.

Menurut Mr, Daniel Chu, untuk membangun relasi yang harmonis dengan remaja masa kini, bukan saja menjadi pendengar yang baik. Tetapi lebih dari itu, seorang guru wajib menumbuhkan perasaan empati dengan anak.

Sampai di sini tentu muncul sejumlah pertanyaan, ‘mengapa harus wajib, bagaimana kalau saya tidak bersikap empati, dan berbagai litani pertanyaan lain.

Melalui penjelasan Mr Daniel, bahwa mereka yang lahir di tahun 1997, 1998, sampai dengan 2017 adalah kumpulan orang-orang yang semenjak lahir telah kecanduan dengan internet. Sebagian besar dari pernyataan brother Daniel tersebut berada di wilayah urban. Tempat dimana orang tua sibuk dengan pekerjaan, sehingga seorang anak jika menangis kecenderungan orang tua adalah memberikan gadjet, dan berbagai perangkat teknologi super canggi yang lain.

Hal ini dimaksudkan agar tidak menggangu pekerjaan orang tua. Namun, melalui hal-hal inilah yang menimbulkan kecanduan pada teknologi, penyalagunaan fungsi teknologi hingga pada kejahatan yang muncul lewat dunia maya.

Lantas tugas seorang pendidik apa?.

Bersinergi dengan orang tua, dan menumbuhkan sikap empati dengan anak. Caranya yaitu memberikan sugesti positif, seperti saya dapat mengenali perasaan anda, saya dapat mengerti anda marah, saya telah melihat usaha anda, dan berbagai kata peneguhan lain yang menunjukan keberpihakan guru atau orang dewasa pada remaja.

Hal ini menjadi penting karena tugas seorang pendidik adalah berfokus pada masa depan anak bukan sekarang, kata Daniel Chu.

Kedua Memberikan Penghargaan Kepada Siswa.

Masalah otak, menurut riset yang dilakukan oleh Mr. Daniel setiap manusia terutama remaja, terdapat bagian tertentu dalam otak yang memiliki kecenderungan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain.

Bagi seorang pendidik memahami fungsi otak akan menjadi sarana yang efektif untuk membangun relasi interpersonal yang intim dengan siswa di sekolah.

Ketiga nenanamkan nilai-nilai kristiani kepada siswa.

Dimana setiap anak berharga. Tanamankanlah nilai-nilai Kristiani, seperti kasih, peduli, dan takut akan Tuhan. Solat 5 waktu, ke wihara, dan kegiatan-kegiatan keagamaan; merupakan cara orang tua dan guru dalam melindungi generasi muda Indonesia dari masalah-masalah yang ditimbulkan akibat dari kemajuan teknologi dan moderenisasi.

Kesimpulannya

1.   Ekspresi bahagia atau tersenyum dalam diri remaja, tidak selamanya mencerminkan perasaan mereka yang sebenarnya. Maraknya perkembangan teknologi telah menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi pada remaja. Dalam proses itu ada kehampaan dan kecemasan yang membayangi tumbuh kembang remaja masa kini. Oleh karena itu, sebagai guru dan orang tua, idealnya menyediakan waktu terbaik untuk remaja dan mendengarkan keluh kesah mereka dengan “hati”. Maksudnya menempatkan perasan kita pada apa yang dirasakan oleh peserta didik dan anak di rumah (bersikap empati pada anak).

2.   Memberikan penghargaan dan menanamkan nilai-nilai agama adalah keharusan bagi orang tua dan guru dalam menididk siswa dan remaja zaman ini; karena ada ruang kosong pada remaja yang harus diisi dengan cinta, dan kasih sayang dari orang tua, dan guru di sekolah.

Martin Karakabu
Guru Kampung


Baca juga artikel yang terkait dengan postingan ini;
Berkomunikasi dengan Anak "Lewat Rasa"


Catatan Tambahan:


1.   Tulisan yang diberi judul berkomunikasi dengan anak "lewat rasa"; hadir di hadapan sidang pembaca yang terhormat dengan tujuan untuk berbagi dan belajar bersama.

2.   Tidak dimaksudkan untuk menggurui atau merasa diri paling tahu. Apabila membawa manfaat itu semua karena Tuhan. Jika tidak berfaedah, abaikan saja karena ini hanyalah celotehan seorang guru kampung biasa. Salam damai@

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Berkomunikasi dengan Anak "Lewat Rasa""

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel