Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum

Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum  siswa SMA Kanaan Jakarta
Jeremy Jo siswa SMA Kanaan Jakarta/dok pribadi
Guru bangsa dan sidang pembaca yang terhormat, tulisan yang diberi judul chef pilihan hidup pria murah senyum adalah catatan kisah; yang bisa saya katakan tidak memberi faedah bagi pembaca. Namun saya berharap setelah selasai membaca catatan tak bertepi ini, pembaca memiliki dua hal. Pertama memahami dengan hati bahwa hidup adalah pilihan. Kedua di era yang penuh daya saing, memilih pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang adalah solusi alternatif yang bijak.

Baiklah sidang pembaca dan guru bangsa yang terkasih sekarang kita bahas tentang masakan.

***
Memasak dan wanita laksana dua keping mata uang yang tidak terpisahkan. Itu dulu.

Sekarang tidak sedikit pula laki-laki yang handal memasak. Memasak sepertinya mudah, tetapi praktiknya tidak demikian. Orang yang pandai memasak sekalipun sering didatangi oleh tamu yang bernama ‘rasa tidak percaya diri’ ketika masakannya harus dicicipi oleh orang lain. Maka tidak heran jika pengamat seni menempatkan masakan sebagai karya seni yang paling berharga diantara semua karya seni yang lain.

Begitu pentingnya memasak hingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang terkagum-kagum dengan seseorang yang menguasai bidang ini.

Pemilik nama lengkap Jeremy Jo ini, lahir di Jakarta, 9 Mei 2001, dalam kesehariannya di sekolah tergolong murid yang ‘spesial’ karena bicara seperlunya. Kerapian adalah prioritas dalam penglihatan saya sebagai wali kelas. Hobbynya memasak.

Seolah mau mengamini atau mempertegas hobynya, remaja yang murah senyum ini memiliki cita-cita menjadi seorang chef terkenal. Hal ini dibuktikan dengan cintanya dia terhadap dunia dapur.

 “Pak Martin, di rumah dia yang masak buat kami, tetapi yang lebih sering untuk kakak-kakaknya” . Kata sang ayah saat penerimaan rapor mid semester di SMA Kanaan Jakarta.

Bagi remaja tanggung yang memiliki moto “cooking for the love one” ini. Kesadaraan akan potensi diri adalah hal yang paling utama.

“Karena saya melihat potensi saya bagus dalam bidang memasak pak,” katanya.

Sepertinya agak meragukan remaja SMA Kelas X, sudah bisa memutuskan jalan hidup yang harus diperankan di masa mendatang. Pilihannya pun tidak umum, apalagi dikatakan biasa. Namun, dari sosok yang satu ini kita belajar dua hal pembaca dan rekan guru yang terkasih.

Pertama, hidup adalah pilihan


Untuk melangkah setiap orang harus seminimal mungkin menentukan mau jadi apa kelak. Gurukah, pendetakah, pengusahakah, dan lain sebagainya. Hal ini penting karena ibarat berjalan tanpa tujuan laksana orang buta menuntun orang buta. Demikian halnya dengan tujuan hidup dan cita-cita. Oleh karena itu, putuskan sekarang, saya ingin jadi PNS, Youtuber, dan lain sebagainya. Pilihan ada pada anda.

Hal Kedua, Berani Beda 


Hidup di zaman yang penuh daya saing tidaklah mudah. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Lulus dari Universitas Cenderawasih di Papua. Universitas yang kalah pamor dari UGM, UI, atau UNJ. Apalagi dari Papua. Kesan yang timbul adalah ‘ndeso’ itu saya alami di Jakarta. Namun memilih pilihan yang berbeda mengantarkan saya pada satu fase, “Oh Uncen, keren juga ya ternyata”.

Sidang pembaca, terutama sobat muda sekalian. Menyikapi era yang penuh persaingan ini maka pilihlah, pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang. Misalnya cowok ngurusin dapur, iris bawang, kebanyakan kaum patriarkat yang mendiami wilayah nusantara belum bisa diterima secara umum. Tentunya dengan berbagi dalil dan argumentasi yang mereka yakini sebagai kebenaran. Walaupun di zaman secanggi ini hal itu adalah wajar dan sah.

Pembaca terkasih, poin yang mau saya katakan bukan soal laki-laki mengurus dapur, melainkan pilihan yang berbeda dan tidak biasa peluang sukses dan persaingan dunia kerja bisa terjaga.

Hai anak muda yang murah senyum, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan seorang guru kampung ini. Senang juga rasanya bisa menemani masa mudamu sebagai wali kelas, sebagai sahabat, dan sebagai guru. Masa kini dan masa yang akan datang engkau yang tentukan. Tetaplah melangkah dalam iman pengharapan, dan kasih. Salam damai. -Gurumu-


Catatan dan refleksi seorang guru dan wali kelas
Jakarta diakhir kisah

Martin Karakabu
Guru Kampung

Baca juga artikel yang terkait dengan postingan ini;
Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum  SMA Kanaan Jakarta

Catatan Tambahan:

1.   Tulisan yang diberi judul chef pilihan hidup pria murah senyum; hadir di hadapan sidang pembaca yang terhormat dengan tujuan untuk berbagi kisah dan belajar bersama.

2.   Tidak dimaksudkan untuk menggurui atau merasa diri paling tahu. Apabila membawa manfaat itu semua karena Tuhan. Jika tidak berfaedah, abaikan saja karena ini hanyalah celotehan seorang guru kampung biasa. Salam damai@

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum "

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel