Kuncup Murid Istimewa: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas

Saya bangga dan sangat bahagia bersama anak-anak ini. Mereka adalah Kuncup. Apa itu kuncup?, kuncup adalah sebuah nama yang dipakai oleh anak-anak kelas X IPS 2 SMA Kristen Kanaan Jakarta untuk komunitas kelas.

Kuncup!
Kuncup Murid Istimewa: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas
Kuncup dalam dua dimensi/dok pribadi
Saya benar-benar dibuat terharu oleh anak-anak ini. selama kurang lebih 5 tahun menjadi guru. Siswa-Siswi Kelas X IPS 2 yang membuatku sadar bahwa profesi guru sangatlah membahagiakan jika kita tulus dalam mengabdi dan melayani siswa dengan iklas.

Resepnya adalah jadilah guru yang bisa mendengar, jadi seorang pendidik yang bisa berkawan dengan siswa; dan lakukan semua itu dengan iklas dan setulus hati.

Bahagianya seperti apa?

Itu relatif dan tergantung seorang guru memandang dan memaknai profesi keguruannya. Namun bagi saya bahagia itu, jika cinta tulusmu dibalas; bukan dengan uang, karena bahagiaku bukan soal uang tetapi dengan cara yang tidak diduga anak muridmu memberikan sebuah kado di hari ulang tahunmu.

Bukan soal mahalnya harga kado, tetapi lihatlah cinta mereka.Ini bukan soal materi tetapi tentang rasa.

Guru bangsa, saya memiliki dua kisah yang menurut saya sangat menyentuh relung terdalam.

Kisah pertama adalah saat menjadi seorang guru muda di tengah pedalaman Papua. Tepatnya di SMP Negeri 1 Fef Kab. Tambrauw Papua Barat. Saya katakan teori kuliah, tidak berlaku di sini, (Baca: Fef). Saat bertugas pada tahun 2012 lalu. Hanya satu teori yang membuatmu dicintai, yaitu layani mereka dengan hati yang tulus dan iklas maka cinta mereka akan diperoleh.

Saat sakit karena ganasnya malaria di pedalaman Papua, transportasinya pun hanya mobil dabel gardan yang adanya pun tidak menentu. Bisa sebulan sekali, bisa tidak. Puskesmas, medis, apalagi rumah sakit nyaris tidak pernah kudengar apalagi melihatnya.

Saat bertarung dengan ganasnya penyakit malaria. Jauh dari keluarga. Memang hanya seorang diri di tengah hutan belantara. Siapakah yang menolongku, apakah seorang dokter atau petugas medis. Jawabanya tidak. Siswalah yang menlongku, merekalah yang menjadi dokter dengan mencarikan ramuan alam, merekalah orang tua dan saudara-saudaraku, memberiku makan dan mengurusin seorang guru hingga bisa mengajar kembali.

Kuliat ketulusan dan cinta yang iklas di mata anak-anak itu. Kisahnya mungkin akan kuceritankan di lain waktu. Kali ini saya akan membahas tentang Kuncup.

Tahun 2013 saya hadir di SMA Kanaan Jakarta dan mengajar anak – anak metropolitan. Situasinya SANGAT JAUH BERBEDA dengan kondisi Papua. Harus saya akui untuk mendapatkan “cinta” dari anak murid metropolitan butuh proses dan perjuangan yang sangat panjang, penuh liku dan warna. Sekali lagi jika kita (baca: guru) kaku dengan teori – teori yang diperoleh dibangku kuliah maka nikmatilah stres tingkat tinggi yang diberikan oleh anak-anak.

Tetapi ada satu teori yang membuat mereka bisa memahamimu guru bangsa, yakni teori hati. Itu bukan teori dari ahli pendidikan tetapi refleksi seorang guru kampung. Maksudnya layani anak dengan hati yang tulus dan iklas maka cinta mereka akan diperoleh.

Jangan berpikir mereka tidak menilaimu rekan guru. Anak-anak zaman ini sangat kritis dan cerdas, mereka tahu mana guru yang ke sekolah hanya untuk menawarkan dagangan, mana guru jadul yang ceramah melulu setiap hari, mana guru yang asal dapat gaji, dan mana guru yang melayani dengan iklas.
Apakah saya sudah “taklukan” mereka dengan teori hati yang saya gembar-gemborkan di atas. Sama sekali tidak bapak dan ibu sekalian. Saya pun masih belajar dan terus belajar tetapi saya tahu satu hal yang pasti yakni jadilah guru yang bisa melayani dengan hati.

Kesimpulan ini saya dapatkan bersama anak-anak kelas X IPS 2 SMA Kanaan Jakarta yang mereka namakan kelompoknya dengan sebutan Kuncup.

Seperti apa maksudnya?. Itu sulit untuk dijawab karena ini soal rasa. Tetapi satu keyakninan yang membuatku percaya adalah, 8 September 2017 saat mereka semua berkumpul dan memberikan sebuah kejutan di ulang tahunku untuk kali keduanya membuatku sadar guru bisa salah, guru harus belajar dari anak, guru mesti jadi teman, guru harus tegas tetapi jelaskan dimana kesalahan anak. Singkatnya jadilah guru yang melayani dengan hati.

Terima kasih Kuncup untuk momentum yang penuh kontemplasi di ruang kelas XI IPS 1/ Jumat, 8 September 2017. Itu sesuatu yang tidak bisa saya lupakan sepanjang jalan ini. Salam untuk kalian anak-anak hebat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kuncup Murid Istimewa: Catatan Seorang Guru dan Wali Kelas"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel