Manfaat Mempelajari Debat Bahasa Indonesia

Manfaat Mempelajari Debat Bahasa Indonesia
Debat KKG/dok pribadi
Apa manfaat mempelajari debat?

“Toh saya tidak ingin menjadi pengacara, atau orator terkenal yang dituntut pandai berargumentasi”. "Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses; yang tentunya tidak perlu mempelajari debat”. “Kalaupun saat ini saya kelihatan serius mempelajari topik ini, tujuan saya satu, supaya mencapai KKM dan lulus sekolah”.

Pembaca dan para guru bangsa yang saya kagumi. Hal-hal ini penting untuk kita pahami dari anak, yang mungkin kontruksi berpikirnya seperti yang saya kemukakan di atas. Maka tugas kitalah membuka cakrawala berpikirnya bahwa soal berbicara dan debat bukan sebatas dan sedangkal itu. Saya tahu bahwa para guru yang sudah “kenyang pengalaman” di lapangan pasti sudah mengetahu hal ini, ataupun tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar membangkitkan kembali ingatan kita tentang sesuatu hal yang bernama apresepsi.  Apa itu apresespsi saya pikir bukan saatnya untuk dijabarkan secara mendetail. Mungkin suatu saat nanti.

Rekan guru dan pembaca sekalian setelah kita mencoba memahami pskologi anak dengan rasa, maka langkah selanjutnya adalah membuka cakrawala berpikir peserta didik kita soal debat. Ilustrasi sederhana apapun profesinya, apapun status sosialnya, siapapun dia yang namanya komunikasi pasti melekat dan dibutuhkan oleh siapapun. Ranah komunikasi secara garis besar dibagi menjadi dua ragam. Lisan dan tulisan, tentu semua guru dan pembaca yang budiman sudah mengetahuinya dengan baik.

Ragam lisan, dibagi menjadi 2 monolog dan dialog. Saya yakin pada bagian ini, rekan guru bahasa Indonesia sudah sangat paham soal ini dan saya di sini tidak mengulas tentang monolog dan dialog secara spesifik. Apalagi soal empat keterampilan berbahasa, satu diantaranya adalah keterampilan berbicara. Bukan waktunya untuk dibahas.

Langsung saja, apa manfaatnya siswa mempelajari debat.

Pertama Menguji Mental

Soal ini menurut hemat saya dan dari pengalaman saya mendampingi siswa-siswi saya SMA Kanaan Jakarta dalam berbagi lomba debat. Mental adalah kendala terbesar. Pintar matematika dan fisika saja tidak cukup atau belum lengkap. Sebelum kita mampu menjelaskan apa itu fisika, mengapa kita harus mempelajari matematika kepada orang lain; dan meyakinkan orang tersebut bahwa apa yang kita bicarakan penting bagi lawan bicara kita. Pada bagian ini maka teknik debat menjadi penting untuk dipraktekan. Ya tidak harus memunculkan urat saraf seperti debat pilkada di layar kaca Tv, tetapi tentunya dengan cara-cara persuasif dan sopan.

Jika mental tidak siap maka apa yang mau disampaikan tidak tersampaikan dengan baik. Maka akibat yang terjadi adalah lawan bicara kita tidak paham apa yang kita bicarakan. Tentunya ada hal lain yang mempengaruhi, seperti intonasi, artikulasi, gestur, materi, persiapan, dan lain sebagainya. Namun semuanya akan menjadi sia-sia jika kondisi dari dalam diri kita (baca: peserta didik) merasa tidak siap atau tidak percaya diri. Soal dalam diri, merasa tidak siap, itulah yang saya maksudkan dengan mental.

“Bagimana supaya mental saya menjadi baik?”, dengan kata lain supaya saya tidak grogi saat berbicara di depan umum.

Jika ada siswa yang mempertanyakan hal itu, maka jawabannya ada pada siswa itu sendiri. Maksudnya adalah maksimalkan persiapan, kuasai materi, terus melatih diri untuk berbicara di depan kelas. Bertanya pada guru yang bersangkutan tentang teknik debat dan fungsi setiap debator (pembicara 1,2,3 fungsinya apa, pro fungsinya apa, kontra fungsinya apa).  

Jadi soal mental bukan hanya saat debat tetapi keberlanjutan dari sang anak atau peserta didik dalam kehidupan mendatang. Sekolah dan guru hanya mempersiapkan siswa-siswinya. Jika siswa menyangsikan ketidakrelevannya dengan kehidupan mendatang maka gurulah yang harus menjelaskannya.

Kedua Melatih siswa untuk Kritis  

Karakter kaum intlektual adalah tidak muda mempercayai sesuatu, atau dengan kata lain selalu mempertanyakan keabsahan sesuatu hal. Ini sangatlah penting ditengah maraknya berita hoax di berbagai sosial media akhir-akhir ini karena isu pilkada, agama suku dan ras tertentu. Sekolah dan guru sebagai garda terdepan ya mempersiapkan calon generasi muda yang kritis agar tidak muda dibohongi. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa materi debat dalam pelajaran Bahasa Indonesia sangat penting artinya bagi generasi sesudah kita.   

Ketiga Debat Membuat Anak Tahu Banyak Hal

Bagian atas telah saya jelaskan supaya tidak grogi seorang siswa dalam mengikuti debat “dituntut” mempersiapkan materinya maksimal dan menguasi topik debat. Sebagai contoh mosi debatnya adalah UJIAN NASIONAL TIDAK MENJADI TOLAK UKUR KEBERHASILAN SEORANG SISWA. Dari mosi ini, tim pemerintahan atau tim pro saat menyatakan persetujuannya tentu mencari berbagi literatur yang mendukung parameter berpikirnya; demikian halnya dengan tim kontra atau oposisi. Kesamaan keduanya adalah mencari refrensi yang menguatkan argumentasi masing-masing. Untuk mencapai atau memenuhi hal itu orang harus banyak baca. Dengan membaca banyak hal secara otomatis orang akan tahu banyak hal juga. Dengan mengerti banyak hal tentunya memudahkan seorang siswa menjalani kehidupannya setelah lepas dari bangku pendidikan.

Sampai di sini saya berharap kontruksi berpikir ala siswa bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih; sebagai “bekal” bagi anak didik kita pada kehidupan mendatang.

Penutup

Sidang pembaca yang kritis dan guru bangsa di mana saja mengabdi, tulisan saya yang tidak jelas dan jauh dari sempurna ini tujuannya hanya sekedar berbagi bukan menunjukan ketahuan saya pada bidang ini. Harapan terbesar saya adalah kemasan guru yang menarik dapat membangkitkan minat belajar Bahasa Indonesia semakin bertambah. Syukur kalau sampai pada taraf mencintai Bahasa Nasionalnya dan mengaktualisaikan di kehidupan mendatang. Semoga Bermanfaat ***

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Manfaat Mempelajari Debat Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel