Mojang Priangan yang Menginspirasi

Mojang Priangan yang Menginspirasi/Martin Karakabu
Clara Alverina-Muridku/Dok pribadi
Derap langkah sepatu sekolah dominan hitam miliknya selalu mengiringi langkahnya di koridor kelas; dan seantero sekolah Kristen Kanaan Jakarta. Langkahnya laksana hazelnut dengan kecapatan bak cahaya jepretan kamera fotografi profesional. Namun kadang pelan laksana “kaum papa” yang rentah.

Ciri khasnya adalah suara yang lembut, dikombinasi dengan canda khas anak – anak. Tetapi soal kesopanan dan sikap empati, menurut saya sebagai wali kelasnya dia salah satu yang terbaik.

Menunduk jika berjalan, senyum simpul, dan menatap pada sudut 90 derajat adalah cirinya yang lain. Hari-harinya penuh ceria walau pun kadang ‘mendung’ (baca: sedih dan pusing) karena banyak tugas sekolah atau dimarah oleh guru.

Pemilik nama lengkap Clara Alverina ini lahir di kota kembang Bandung. Mojang priangan yang lahir pada tanggal 8 September 2001 ini sosok yang periang dan murah senyum. Tak jarang suara-suara khas remaja tanggung mewaranai, dan mengambil bagian dari kegaduhan kelas X IPS 2, bersama Hellen dan Jenifer dua sahabatnya. Mungkin banyak, tetapi setidaknya itulah yang kulihat dari “dara” cantik yang bercita-cita jadi seorang pebinis ini.

Suatu hari, saya memintanya untuk mengikuti latihan debat, sekaligus persiapan lomba. Saya memilihnya bukan karena saya wali kelasnya. Tetapi sebagai guru saya melihat potensi tersembunyi dari si gadis yang memiliki hobby nonton, jalan-jalan, dan belajar ini.

Latihan dadakan pun kami lakoni, seperti orator ternama gaya kami kala itu. Namun sayang dia merasa mengecewakan saya karena penampilannya tidak maksimal. “Maaf pak mengganggu saya ingin jujur, kalau saya pendam ga enak hehehe. Jadi gini pak, jujur saya tidak bisa debat karena saya merasa tidak cocok di debat, saya sudah mencoba untuk percaya diri dan tidak takut tapi tidak bisa pak”.

“Maaf kalau saya mengecewakan bapak”. Seperti itu isi pesan yang dikirim via line kepada saya.

Sepertinya gadis ini paham bahwa setiap pilihan pasti ada konsekuwensinya.

Cerita kami pun berakhir hari itu dengan alumni SMP Kristen Kanaan tersebut. Saya begitu kagum dengan sikap yang ditunjukan oleh gadis 16 tahun tersebut. Tidak ada kecewa, hanya rasa bangga pada sosok muda yang mempesona ini. Di tengah melunturnya nilai-nilai karakter pada remaja, dia hadir dengan gayanya yang khas.

Sebagai guru kampung, saya bangga diberi kesempatan untuk menemani tumbuh kembang dari gadis yang baik ini. Namun saya menyadari bahwa semua yang ditunjukan oleh seorang Clara, bukan “hasil karya” saya, tetapi rumah telah menjadi penyemai pendidikan karakter yang pertama dan itu dilakukan dengan sangat baik oleh ibunda tercinta. Terima kasih untuk keluarga yang menginspirasi.

*** Refleksi 2017 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mojang Priangan yang Menginspirasi"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel