Pedomaan Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMA/SMK oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaab Jakarta Tahun 2016 (Bagian Kedua)

Pedomaan Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMA/SMK oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaab Jakarta Tahun 2016 (Bagian Kedua)
Peran mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah membina dan mengembangkan kepercayaan diri peserta didik sebagai komunikator dan pemikir (termasuk pemikir imajinatif). Mata pelajaran Bahasa Indonesia juga mengantar warga negara Indonesia menjadi melek literasi dan informasi. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah merupakan pembinaan dan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi yang diperlukan peserta didik dalam menempuh pendidikan, kehidupan di lingkungan sosial,  dan menjalani dunia kerja.

Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia menekankan agar peserta didik mampu mendengarkan, berbicara, memirsa (viewing), membaca, dan menulis. Kompetensi dasar (KD) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan berdasarkan keseluruhan keterampilan berbahasa tersebut secara terpadu, saling berhubungan, dan saling mendukung dalam pengembangan tiga lingkup materi utamanya, yakni pembelajaran  berbahasa, bersastra, dan pengembangan literasi.

Pembelajaran berbahasa Indonesia mencakup pembelajaran pengetahuan kebahasaindonesiaan dan cara penggunaannya secara efektif. Peserta didik belajar tentang fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana berinteraksi secara efektif; membangun dan membina hubungan; mengungkapkan dan mempertukarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa. Peserta didik mampu berkomunikasi secara efektif, dengan kalimat yang tertata dengan baik (termasuk ejaan dan tanda bacanya). Pemahaman tentang bahasa, sebagai penghela pengetahuan dan wahana komunikasi, diharapkandapat menjadikan peserta didik sebagai pengguna bahasa Indonesia yangkomunikatif dan produktif, baik secara lisan maupun tulis.

Pembelajaran sastra meliputi pemahaman karya sastra, sebagai khazanah kekayaan rohani bangsa, dengan cara mengkaji nilai-nilai luhur, budaya, sosial, dan estetik dalam karya sastra untuk pengembangan sikap, pengetahuan, dan kecakapan peserta didik yang berbudaya Indonesia. Karya sastra yang akan digunakan dalam pembelajaran dipilih dengan kriteria bahwa karya sastra itu memuliakan kehidupan sosial, memperluas pengalaman batin, dan mengembangkan kompetensi bernalar dan kompetensi berimajinasi.Peserta didik yang belajar dengan mengapresiasi karya sastra dan menciptakan karya mereka terkayakan rohaninya dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, lingkungan sekitar. Juga, dengan belajar sastra, peserta didik sekaligus diperkaya kompetensi berbahasanya. Peserta didik menafsirkan, mengapresiasi, mengevaluasi, dan menciptakan teks sastra seperti dongeng, cerpen, novel, hikayat, puisi, drama, film, dan teks multimedia (lisan, cetak, digital/online). Karya sastra yang dimaksud, di samping memiliki nilai-nilai keindahan, juga memperkuat nilai-nilai ilahiah para peserta didik dan memperkaya wawasan kebudayaan mereka, baik yang bersifat kedaerahan, nasional, dan dunia internasional. Karya sastra yang memiliki potensi kekerasan, pornografi, dan memicu konflik SARA haruslahdihindari. Karya sastra unggulan--namun belum sesuai dengan pembelajaran di sekolah--, perlu ada upaya memodifikasi untuk kepentingan pembelajaran tanpa melanggar hak cipta.

Literasi diartikan sebagai kemampuan peserta didik dalam “melek wacana”. Keterampilan awalnya menekankan pada pengembangan kompetensi menulis dan membaca. Kemampun berliterasi merupakan bentuk integrasi dari kemampuan mendengarkan, berbicara, memirsa, membaca, menulis, dan berpikir kritis. Dalam pengembangannya, literasi merupakan upaya peningkatan kemampuan berbahasa dan bersastra yang berhubungan dengankeberhasilannya dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Hal itu di antaranya ditandai dengan kegemaran dankemampuannya dalam membaca makna tersurat dan tersirat,  kemampuanmenulis  secara benar dan jelas; serta dapat mengembangkan kemampuannya itu melalui berbagai kegiatan sehari-hari di sekolah, di masyarakat, ataupun di dunia kerja nantinya.

Kemampuan membaca dan menulis sangat diperlukan untuk membangun sikap kriitis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan, dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa. Sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan dengan sendirinya menuntut kecakapan personal (personal skills) yang berfokus pada kecakapan berpikir rasional. Kecakapan berpikir rasional mengedepankan kecakapan menggali informasi dan menemukan informasi, serta bernalar dengan menghubung-hubungkan informasi ditemukan.Kecakapan menggali dan menemukan informasi menjadi keterampilan yang perlu dikuasai oleh para peserta didik. Keterampilan menemukan informasi ditunjukkan melalui kemampuan mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan, kemampuan mengakses dan menemukan infromasi, kemampuan mengevaluasi informasi dan memafaatkan informasi secara efektif dan etis.

Hakikat Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Berdasar pada uraian di subjudul Rasional, mata pelajaran Bahasa Indonesia pada hakikatnya sebagai: (1) sarana berpikir, (2) pemersatu bangsa, (3) penghela ilmu pengetahuan, (4) penghalus budi pekerti, (5) pelestari budaya bangsa dan bahasa pengantar dalam pendidikan.

Sarana Berpikir

Hakikat pembelajaran bahasa Indonesia adalah proses belajar memahami, memproduksi, dan mengkreasikan informasi, gagasan, perasaan, dan pengalaman untuk berbagai keperluan, baik lisan maupun tulis.  Terkait dengan hal itu, kegiatan berpikir mempunyai peranan sangat penting. Berpikir  merupakan aktivitas sentral yang memungkin-kan peserta didik dapat memahami dan memproduksi gagasan dengan baik. Oleh karena itu, pendidik harus menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses berpikir secara optimal.

Proses  berpikir seharusnya  melekat  dan  terus-menerus terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Ketika pendidik menghadirkan kegiatan berbahasa atau bersastra, kegiatan tersebut akan dapat dipahami dengan baik jika peserta didik mampu dan mau berpikir (logis, kritis, dan kreatif). Selanjutnya, peserta didik dapat memproduksi sajian gagasan, ungkapanperasaan, paparan pengalaman,  jika mereka  mampu dan mau berpikir dengan baik. Realisasi   kegiatan   berpikir   itu   misalnya berupa kegiatan  menghubung-hubungkan gagasan, membandingkan gagasan, mempertentangkan gagasan, memilih gagasan, menafsirkan data, menyimpulkan hasil analisis, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan-gagasan baru yang akan dituangkan ke dalam tulisan atau paparan lisan dalam suatu peristiwa berbahasa tertentu. Penguasaan bahasa juga memengaruhi kemampuan peserta didik dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Seseorang yang perbendaharan katanya tinggi akan lebih mudah mempelajari dan memecahkan suatu persoalan daripada orang yang penguasaan perbendaharaan katanya rendah. Hal itu terjadi karena berpikir sesungguhnya merupakan kegiatan untuk menghubungkan konsep kata yang satu dengan konsep yang lain.  Semakin banyak kata yang dikuasanya, semakin mudah bagi seseorang untuk berpikir dan semakin banyak pula solusi yang mungkin bisa dilahirkan dari hasil belajarnya.

Pemersatu Bangsa

Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam mempersatukan bangsa dan  sarana  pengembangan  intelektual,  sosial,  dan  emosional  peserta didik. Penguasaan bahasa Indonesia oleh peserta didik juga akan menunjang keberhasilan mereka dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan dapat membantu peserta didik dalammengembangkan potensi pikir, rasa, dankarsa untuk  mengenal  dirinya,  budayanya,  dan  budaya orang  lain, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, mengemukakan gagasan dan perasaan, menemukan serta menggunakan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, inventif, dan imajinatif yang ada dalam diri peserta didik.

Menuju masa depan, peserta didik memerlukan pengalaman belajar berbahasa  Indonesia  sebagai  perekat  bangsa. Proses  penghayatan  ini perlu diprogramkan secara terencana dan bersistem. Dengan cara ini– melalui pengalaman belajar berbahasa Indonesia sebagai perekat bangsa– diharapkan akan terbangun jiwa dan  semangat kebersamaan peserta didik. Dengan demikian, kedudukan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa semakin diperkuat melalui proses pendidikan di sekolah, sebagaimana tercerminkan dalam komunikasi social budaya yang harmonis di antara para penuturnya.

Bahasa Indonesia juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi dengan seluruh warga bangsa dalam rangka membangun rasa dan ikatan kebersamaan nasional. Bahasa Indonesia dapatmenjadikan setiap kita untuk merasa menjadi bagian dari kelompok masyarakatnya. Hal seperti ini pula yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bersatu karena merasa sama-sama berkepentingan terhadap bahasa Indonesia. Persatuan mereka disebabkan oleh kesamaan bahasa di samping tanah air dan bangsanya. Oleh karena menggunakan bahasa yang sama, mereka merasa bersaudara. Mereka merasa memiliki kedekatan emosi walaupun sebenarnya mereka semula tidak saling mengenal. Dalam hal inilah bahasa memiliki fungsi sebagai sarana persatuan. Seseorang merasa bagian dari masyarakatnya karena kesamaan bahasa.

Penghela Ilmu Pengetahuan

Kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif peserta didik perlu secara sengaja dibina dan dikembangkan. Untuk melakukan hal itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi wahana strategis. Melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, memirsa, membaca, dan menulis, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya secara terus-menerus untuk membantu pengembangan mata pelajaran lainnya.

Bahasa Indonesia bukan sekadar sebagai pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks yang mengemban fungsi untuk menjadi sumber pengembangan makna pada konteks pembelajaran-pembelajaran lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis genre dilaksanakan dengan menerapkan prinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna atau konsep, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, peran bahasaIndonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiringdengan perkembangan bahasa Indonesia dan ilmu pengetahuan.

Penghalus Budi Pekerti

Pembelajaran bahasa Indonesia meliputi pengembangan kemampuan berbahasa  dan bersastra.  Melalui  kegiatan bersastra,  pembelajaran dikembangkan sebagai sarana penghalus budi pekerti. Sastra yang digunakansebagai  media apresiasi dan ekspresi sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan. Dengan demikian, pembelajaran yang dimaksud  dapat menumbuhkan kehalusan budi, kepekaan dankesetiakawanan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan dapat membangun kecerdasan kehidupan masyarakat. Pembelajaran sastra dapat membentuk kepekaan terhadap berbagai fenomena kehidupan di lingkungan sosial budaya ataupun di lingkungan alam sekitar.

Bersastra dapat diwujudkan melalui kegiatan apresiasi, ekpresi,  dan kreasi sastra, baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama. Kegiatan apresiasi karya sastra yang diawali  dari  membaca  harus  menjadi  kegiatan penting  dalam pembelajaran bersastra peserta didik. Melalui kegiatan mendengarkan atau membaca puisi, prosa, dan drama, peserta didik terlibat dalam kegiatan reseptif. Pada kesempatan yang lain, peserta didik diajak untuk  terlibat  dalam  kegiatan  produktif, yaitu berekspresi dan berkreasi atau menghasilkan puisi, cerpen, novel, dan/atau naskah drama. Oleh karena itu, pembelajaran sastra ditempuh dalam bentuk kegiatan produktif lisan atau tulis juga dapat mempresentasikan kinerja apresiatifnya. Dengan demikian, kegiatan reseptif dan produktif dalam bersastra akan menjadi rangkaian kegiatan apresiasi, ekpresi, dan kreasi sastra sebagai pembelajaran yang menyenangkan.

Pelestari Budaya Bangsa dan Bahasa Pengantar Pendidikan

Bahasa Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan eksistensinya. Sebagai bagian dari budaya bangsa yang dijunjung tinggi, eksistensi bahasa Indonesia akan terus bertahandan bahkan menguat jika dilestarikan oleh setiap penuturnya. Pembelajaran bahasaIndonesia di satuan pendidikan merupakan upaya melestarikan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan dalam memerankan fungsinya sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa kepada generasi penerus.

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik secara lisan maupun tulis. Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan pemerintah dan lembaga-lembaga kenegaraan ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan dalam bahasa Indonesia. Demikian pula halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita didalam hubungan dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan. Dengan kata lain, komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat menggunakan bahasa Indonesia Sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, kecuali di daerah-daerah tertentu. Di daerah-daerah tertentu, bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar sampai dengan kelas-kelas awal sekolah dasar. Hal ini karena sebagian besar anak-anak pada waktu memasuki lembaga pendidikan formal hanya menguasai bahasa ibunya (daerah). Oleh karena itu, bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar demi kepraktisan.

Di dalam hubungan dengan fungsi yang ketiga, bahasa Indonesia tidak saja dipakai sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan tidak saja dipakai sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang sama latar belakang sosial budaya dan bahasanya. Di dalam masyarakat yang sama latar belakang tersebut, pemilihan bahasa Indonesia didasarkan pada pokok persoalan yang menyangkut masalah tingkat nasional.

Di dalam hubungan dengan fungsi yang terakhir, bahasa Indonesia dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional kita. Di samping itu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pendukung sekaligus sebagai alat penyebarluasan pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan nasional kita.

Tindakan nyata dan efektif di dalam memperkuat fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia adalah melalui jalur pendidikan. Tindak lanjut yang memungkinkan untuk diambil demi memenuhi harapan tersebut adalah sebagai berikut:


Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan. Dengan pembelajaran bahasa Indonesia, peserta didik dapat menguasai pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Hal tersebut merupakan dasar bagi peserta didik  untuk memahami dan merespons situasi lokal/daerah, nasional, dan global. 

Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa. Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.


Ruang Lingkup

Pengembangan kompetensi Bahasa Indonesia ditekankan pada kemampuan mendengarkan, berbicara, memirsa, membaca, dan menulis. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan melalui beragam jenis teks,baik lisan ataupun tulis, yang diwadahi oleh suatu kegiatan/kepentingan komunikasi yang jelas.  Teks yang dimaksud hendaknya dipahami berdasarkan isi, struktur penyajian, serta kaidah (fitur) kebahasannya, baik itu berupa ragam kalimat dan pilihan katanya.

Kegiatan berbahasa dan bersastra dapat dilakukan melalui pemaknaan terhadap aktivitas lisan dan tulis, cetak dan elektronik, laman tiga dimensi, serta citra visual lain. Kegiatan berbahasa dapat dilakukan dengan melihat dan mendengarkan video, film, pentas, pertunjukan drama, internet, dan jenis lainnya. Oleh karena itu, kompetensi dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapatlah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mendengarkan, berbicara, memirsa, membaca, dan menulis.

Lingkup materi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X - XII merupakan penjabaran tiga aspek: kebahasaan, kesastraan, dan literasi.Ruang lingkup kebahasaan mencakup pengenalan ragam bahasa, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang multilingual. Apabila pada kelas awal penggunaan bahasa (daerah) dianjurkan digunakan guru saat menjelaskan kata dan konsep tertentu, pada kemampaun berbahasa di tataran berikutnya adalah untuk kepentingan berinteraksi. Peserta didik perlu belajar bahasadalam beragam konteks komunikasi, baik yang dipengaruhi oleh latarbelakang sosial budaya maupun kepentingan komunikasinya. Idiolek, dialek, sosiolek, ataupun logat gaya haruslah dihargai sebagai bagian dari kajian pembelajaran bahasa. Aspek bahasa juga membelajarkan struktur dan kaidah kebahasaan dari setiap teks.  Peserta didik belajar organisasi dan ciri-ciri kebahasaan suatu teks berdasarkan  tujuannya--yang ternyata--memiliki beberapa keragaman: berupa perbedaan di samping persamaan-persamaannya. Dengan cara demikian, peserta didik diharapkan dapat mengenali suatu teks dengan mudah dan tepat dan dapat mereproduksi dan mengkreasikannya secara benar dan menarik.

Ruang lingkup sastra mencakup pembahasan beragam ragam sastra, tanggapan terhadap karya sastra, menilai karya sastra, dan menciptakan karya sastra. Pengenalan konteks sastra dapat berupa peristiwa dalam sastra yang diambil dari dan dibentuk oleh faktor sejarah, sosial, dan konteks budaya. Menanggapi karya sastra adalah kegiatan identifikasi gagasan, pengalaman, dan pendapat dalam karya sastra dan membahasnya. Menilai karya sastra merupakan kegiatan menganalisis dan mengkritik suatu karyasastra, termasuk gaya kepengarangan dan latar sosial budaya yang melatari penciptaannya. Menciptakan karya sastra adalah kegiatan akumulasi dari pemahaman, penanggapan, dan penilaian, sehingga peserta didik mendapatkan gambaran utuh tentang karya sastra itu diciptakan. Dengan cara demikian, mereka diharapkan dapat mencipta dan mengkreasikannya sendiri; bahkan sampai pada tahap  memublikasikan  karya sastra sendiri dan/atau mementaskannya.

Ruang lingkup literasi dalam pengertian luas meliputi kemampuan peserta didik di dalam memanfaatkan informasi dan pengetahuan melalui kegiatan berbahasa, terutama membaca dan menulis. Kemampuan peserta didik dalam berliterasi merupakan langkah awal dalam mencapai keberhasilan pembelajaran. Salah satu indikasi keberhasilan pembelajaran ditandai dengan semakin baiknya tingkat berliterasi peserta didik. Artinya, semakin baik tingkat literasi peserta didik  semakin baik pula tingkat daya serap merekaterhadap informasi yang diperolehnya dalam proses pembelajaran. Para peserta didik yang memiliki daya serap tinggi akan lebih mudah mengeksplorasi informasi ataupun pengetahuan yang dimilikinya.

Upaya untuk mencapai kemampuan peserta didik dalam berliterasi, harus diawali dengan menyiapkan guru yang akan membelajarkan literasi tersebut. Guru  harus memiliki seperangkat pengetahuan dan  pemahaman yang menyeluruh tentang literasi. Apa dan mengapa literasi perlu diberikan pada kelas lanjutan (X-XII);  fungsi dan cakupan literasi; strategi pembelajarannya dan ragam teks yang digunakan serta bentuk penilaiannya; adalah beberapa konsep mendasar yang harus dikuasai guru di dalam pengembangan kemampuan berliterasi para peserta didik.

Kemampuan berliterasi tidak serta merta dimiliki dalam diri setiappeserta didik. Kemampuan tersebut membutuhkan pembiasaan danpembudayaan yang terus-menerus melalui pengembangan kompetensi dasar (KD) yang dijalani peserta didik pada setiap pertemuannya. Bentuknya dapat berupa kegiatan membaca sebanyak-banyaknya buku perpustakaan, e-book, ataupun laman-laman internet, berkenaan dengan KD yang mereka pelajari itu. Mereka juga didorong untuk menulis resume, sinopsis, ataupun laporan buku di samping lomba-lomba membaca dan menulis. Penyediaan pojok bacaan dan optimalisasi fungsi perpustakaan sekolah juga perlu dilakukan dalam rangka peningkatan budaya literasi di lingkungan sekolah. Dengan proses tersebut, peserta didik pada akhirnya terbiasa dalam memahami, mengkritisi, memproduksi, dan mengkreasikan beragam informasi untuk menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Kemampuan literasi tingkat tinggi memungkinkan mereka menggunakan bahasa untuk memenuhiberagam kebutuhannya. Seorang yang cakap berliterasi (manusia literat) menggunakan kemampuan tersebut untuk kegiatan sehari-hari di sekolah, lingkungan masyarakat, dan di dunia kerja.
1.     Mutu pengajaran bahasa Indonesia di semua jenis dan jenjang pendidikan perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dimulai dengan meningkatkan kemampuan guru Bahasa Indonesia, pengembangan bahan pelajaran yang sesuai dengan fungsi komunikatif dan integratif bahasa, dan kebudayaan serta penalaran, pemberian pengalaman belajar yang bervariasi kepada peserta didik;
2.     Penentuan strategi pengajaran, pengembangan tata bahasa anutan, penggunnaan tata bahasa yang baik dan benar, kemantapan kemampuan berbahasa Indonesia sebagai persyaratan untuk berbagai macam kenaikan pangkat dan tingkat, pemanfaatan media massa sebagai model penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar; dan
3.     Bahan pelajaran bahasa Indonesia perlu mencakup latihan mendengarkan, berbicara, memirsa,  membaca, dan menulis.  Hal tersebut dimaksudkan agar kompetensi para peserta didik lebih berorientasi pada kemampuan secara nyata dan komprehensif dalam berbahasa dan tidak sekadar mengetahui ilmu bahasa.
4.     Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
5.     Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
6.     Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
7.     Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
8.     Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
9.     Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pedomaan Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMA/SMK oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaab Jakarta Tahun 2016 (Bagian Kedua)"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel