Sesederhana Itulah Arti Hidup yang Kutemui Di Bawah Kaki Gunung ISIS

Sesederhana Itulah Arti Hidup yang Kutemui Di Bawah Kaki Gunung ISIS
Nellysia dan orang tua asuh saat live in/dok pribadi
Live in merupakan suatu kegiatan beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan segala kondisi yang biasa dilakukan dengan cara beranjak dari kota ke suatu desa. Live in biasanya digambarkan dengan bagaimana seseorang dapat menyesuaikan diri dari yang biasanya serba berkecukupan di lingkungan tempat tinggalnya di kota, kemudian berpindah ke desa yang segala sesuatunya tidak mudah untuk didapatkan, serta mempelajari, memahami, mengenal, merasakan dan merefleksikan kegiatan, pola kehidupan dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dengan bimbingan keluarga dimana para siswa bertempat tinggal. 

Kesempatan ini, kami 73 siswa/siswi SMAK KANAAN melaksanakan kegiatan live in didampingi oleh 7 guru di Desa Plono, Kulon Progo, Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung dari hari Jumat, 27 april – 2 Mei 2018. Kegiatan ini pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter siswa menjadi anak yang mampu menumbuhkan sikap hidup sederhana, mandiri, kerja keras, peduli sesama dan lingkungan, bekerjasama, saling menghormati dan hidup jujur.

Kesan yang saya dapat setelah mengikuti kegiatan ini adalah saya ditunjukan suatu pemandangan yang jarang saya temukan ditempat saya tinggal di Jakarta. Orang – orang didesa begitu ramah kepada sesama warga desa maupun para peserta live in yang tinggal sementara di desa tersebut. Saling bertegur sapa meskipun tidak pernah bertemu sebelumnya atau kenal sekalipun, namun mereka tetap menunjukan rasa hormatnya kepada sesame warga desa yang membuat desa itu terasa sangan nyaman, aman, dan ramah.

Meski hidup di desa, namun desa tersebut terawatt dengan baik berkat kesadaran masing-masing warga untuk tetap menjaga lingkungannya agar tetap bersih. Saya juga mendapat kesan yang baik dari keluarga orang tua asuh saya karena saya tidak menyangka bahwa mereka sepeduli dan sebaik itu kepada saya, seakan-akan saya adalah anak mereka. Mereka adalah keluarga yang penuh kesederhanaan juga kehangatan di dalamnya. Hanya 1-2 malam saja saya berada di sana seperti sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Dari kegiatan ini saya dapat belajar bahwa bukan berarti sederhana maka segala sesuatu yang kita inginkan tidak dapat terpenuhi. Saya belajar bahwa justru dengan kesedrhanaan kita dapat belajar memaknai hidup, menghargai hidup, dan mensyukuri segala sesuatu yang saya dapatkan dalam hidup. Karena dengan bersederhana kita akan berkerjakeras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Melalui kesederhanaan saya dapat belajar untuk hidup disiplin, jujur dan terus bersyukur atas apa yang saya miliki. Dari orang tua asuh saya juga saya belajar bahwa semua yang terjadi hari ini nanti atau esok Tuhan yang atur. Mereka tidak mengeluhkan kesederhanaan mereka, bahkan mereka pernah merasakan bagaimana sulitnya menyediakan makanan untuk mereka sekeluarga, namun mereka tidak pernah mengeluh, menyalahkan, dan menuntuk kepada Tuhan. (Nelysia)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sesederhana Itulah Arti Hidup yang Kutemui Di Bawah Kaki Gunung ISIS"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel