Tahu Diri, Tahu Waktu, dan Tahu Tempat: Refleksi untuk Kita yang Disebut Guru

Tahu Diri, Tahu Waktu, dan Tahu Tempat: Refleksi untuk Kita yang Disebut Guru
Guru bangsa dan sidang pembaca yang terhormat. Tulisan yang diberi judul “3 T” sebuah refleksi untuk guru; adalah ulasan reflektif tentang profesionalisme guru. Tidak bermaksud menggurui hanya sekedar berbagi.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Mari kita simak catatan sejarah berikut ini:

Tahun 1984 kota Hirosima dan Nagasaki di Jepang dibom oleh sekutu. Kaisar Jepang saat itu tidak bertanya prajurit yang tersisah ada berapa melainkan guru yang tersisa ada berapa?. Di tangan guru sebagai pioner terdepan Jepang menjelma menjadi salah satu raksasa Asia. 

Semantara di tahun yang sama Indonesia merdeka. Bebas dari diktator tak beradab. Mohon tengok catatan sejarah dan koreksi jika saya salah. Sebagai sebuah bangsa kita pernah berjaya di masa lalu. Saat negara serumpun Malaysia mengirim putra-putri terbaiknya untuk belajar kepada kita. Namun saat ini dan di sini; coba luangkan waktu sejenak untuk melihat serba-serbi dunia pendidikan kita saat ini.

Seorang guru yang seharusnya menjadi soko guru malah mencabuli siswanya. Peristiwa Jakarta Internasional School beberapa tahun silam menjadi salah satu rujukan untuk kita yang disebut, “pak guru, bapak guru, tuan guru, ibu guru” merenung. Mengapa hal seperti itu terjadi?.Belum lagi peristiwa yang cukup heboh dunia Pendidikan pekan ini adalah kematian guru Budi di Jawa Timur karena dianiaya oleh murid sendiri. Dilengkapi lagi dengan peristiwa serupa di Sulawesi Utara, dimana oknum kepala Sekolah dianiya oleh orang tua murid, hanya karena salah paham. 

Masih banyak peristiwa-peristiwa di dunia pendidikan yang membuat kita yang disebut guru harus mengkaji ulang pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Tetapi sudahlah ngapain si membahas sesuatu yang sudah terjadi, sekarang mari kita bicara tentang solusi dari rentetan peristiwa yang saya sebutkan di atas.

Solusi yang Pertama adalah Semua Komponen harus Bersatu dan Bersinergi

Saya kutip pernayataan seorang teman blogger, isinya seperti ini; “Pendidikan. Bukan hanya guru (di sekolah) atau dosen (di universitas atau perguruan tinggi) atau guru agama yang punya peran penting dalam dunia pendidikan. Setiap orang berperan dalam dunia pendidikan. Manusia yang lebih tua mendidik yang lebih muda. Manusia yang lebih cerdas mendidik yang kurang pengetahuan. Manusia yang berpengalaman mendidik yang kurang pengalaman. Tidak perlu menjadi guru atau dosen untuk kita bisa mengajarkan kepada anak muda tentang pentingnya sopan santun dalam bermedia sosial. Pun, tidak perlu menjadi seorang ulama untuk bisa mengajarkan kepada keponakan sendiri tentang shalat lima waktu, mengaji, dan sedekah” 

Artinya menyoal tentang pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kita yang disebut guru, tanggung jawab mereka yang disebut orang tua, dan tanggung jawab dia yang disebut master, masta, suhu, ataupun intlektual; dengan demikian saya bisa katakan, pendidikan adalah tanggung jawab bersama, mimpi bersama untuk bumi pertiwi yang lebih baik. 

Solusi yang Kedua adalah Tahu Diri, Tahu Waktu, Tahu Tempat (3 T)

Tahu diri

Bagian ini adalah wejengan saya di depan kelas kepada tunas muda harapan bangsa. Mereka yang disebut murid. Saya katakan sebagai seorang pelajar anda harus tahu kapabilitasmu adalah seorang pelajar; jadi segala tindakan, maupun kata-kata harus mencerminkan seorang pelajar. Jangan labelnya adalah pelajar namun kelakukannya adalah preman.

Berat hukuman moralnya jika seorang pelajar berlabel seminari, pelajar teologi atau santri; jika tindakan dan tutur kata jauh dari labeling yang melekat. Bisik-bisik tetangga kurang lebih seperti ini, “ih seminaris ko gitu ya”,  “ih anak teologi ko gitu ya”,  “ih santri ko gitu ya”.  

Itulah topik ngerumpi ibu-ibu gang yang kurang kerjaan. Sadarkah sahabat semua, apapun labeling maupun latar belakang pendidikan yang diampu, mereka tetaplah seorang anak yang masih membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Jadi jangan menghujat jika tak mampu menghadirkan solusi, jangan menghakimi jika tidak mengambil bagian karena setiap anak berharga.
Berpendapat boleh, tetapi alangkah lebih bijak jika tidak seperti tong kosong nyaring bunyinya, alias “omdo” (omong doang).
***
Hal yang sama berlaku bagi seorang guru, harus tahu diri bahwa saya seorang guru. Artinya segala sikap maupun tutur kata idealnya harus menunjukan profesionalitas profesi guru. Jika seorang guru berdagang di sekolah, jika seorang guru datangnya terlambat terus setiap hari. Pertanyaan saya, apa itu guru?

Bukankah guru adalah seseorang yang menjadi panutan setidaknya bagi siswa dan anaknya di rumah. Jika seorang guru berdagang di sekolah, secara pribadi saya pahami itu, tetapi pertanyaan reflektif saya, “ini guru apa pedagang pasar ya..?”

Hal yang sama berlaku juga untuk kita, dia, dan mereka yang disebut orang tua. “Sana belajar besok ujian!” semantara bapak ata ibunya sibuk dengan gadjetnya masing-masing. Pertanyaan saya ini orang tua apa bukan ya?. Bukankah kita yang disebut orang tua idealnya memberi contoh bukan memerintah harus ini dan itu..., menemani bukan menyuruh.

Kamu jangan ngrokok ya” semantara bapaknya ngrokok. Pertanyaan saya, orang tipe ini tahu atau tidak kalau dirinya adalah seorang ayah?.
****
Selanjutnya anda bisa bertanya sendiri, saya siapa dan peran saya apa di tengah keluarga, lingkungan kerja, atau pun di tengah-tengah masyarakat.

Tahu waktu

Saya bersyukur hidup di tengah-tengah lingkungan Muslim yang taat, karena menjadi berkat bagi saya. Berkatnya pola pikir dan pola hidup yang mengajak saya untuk berpikir bahwa napas hidup yang diterima setiap hari adalah cuma-cuma alias gratis.

Jika Tuhan meminta setiap napas yang saya terima sejak lahir hingga hari ini harus dibayar, misalnya sejam seribu rupiah. Jujur saya tidak punya uang uantuk membayarnya. Oleh karena itu bersyukur selalu buat Tuhan. Caranya sederhana saja, ke gereja dan mengikuti ibadah setiap Minggu.

Beratnya apa sisikan waktu buat Tuhan kurang lebih 2 jam dalam satu Minggu?. Tengok saja teman-teman Muslim satu hari lima kali ibadahnya. Kita (baca: Nasrani) hanya diminta minimal sisikan satu hari buat Tuhan kok rasa-rasanya sulit benar ya...

Gereja penuh hanya jika Natal atau Paskah.

Belum lagi saat ke gereja kemudian melihat sekeliling, cewek cantik namun busananya menor, “seperti orang yang kurang kain saja”. Jika tidak bisa bedakan busana waktu di mall atau pantai Kuta Bali. Setidaknya engkau bisa berpikir seperti ini, menghadap presiden saja pakain harus sopan, kok menghadap Tuhan pakiannya seperti ini .......

“Apakah layak?”.

Jika tidak bisa menjadi berkat maka jangan menjadi setan.
Mengikuti mode itu baik, tetapi jauh lebih baik jika tahu diri dan tahu waktu menggunakannya.

Tahu tempat

Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa yang sopan santun dan ramah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Buka kembali catatan sejarah bangsa kita. Jika tidak mampu membuka catatan sejarah tenggoklah saudarai - saudari kita yang Muslimah dengan cadar dan busana yang menutupi aurat. Saya tidak meminta anak muridku untuk seperti itu, tetapi jika seperti itu jauh lebih baik, dan itu pilihan bebas. Tetapi di depan kelas saya meminta siswa-siswiku, waktu menggunakan busana seperti ini kapan dan tempatnya di mana?. Jangan sampai menghadap atasan dengan kaos oblong atas nama nyaman dan suka. Semantara tempatnya di kantor, situasinya formal. Mau diapakan yang seperti ini?

Kesimpulannya

1.Suatu kaum bisa berubah dan menjadi lebih baik peradapannya hanya terjadi lewat dunia pendidikan dan pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Lihat kembali catatan sejarah saat perang dunia kedua dan pemikiran Kaisar Hirohito. 

2.Guru adalah pioner terdepan untuk “membawa” suatu kaum, suatu bangsa menuju kehancuran atau kemunduran. Jika pilihannya adalah kemajuan maka tugasnya bukan hanya mengajar tetapi lebih dari itu, yakni memberi contoh kongkrit.  

3.Penghargaan terhadap kaum perempuan adalah upaya nyata membangun pendidikan karena dari rahim seorang wanitalah kehidupan itu dimulai. Penghargaan hanya bisa terjadi jika wanita itu sendiri bisa menghargai dirinya. Salah satunya lewat busana.

4.Mengikuti zaman dan arus moderenisasi itu baik dan sah-sah saja, tetapi jauh lebih baik jika tahu diri, tahu tempat, dan tahu waktu.

5.Untuk kita yang disebut orang tua, pendidikan bukan hanya soal intruksi (buat ini, buat itu, lakukan ini, lakukan itu) tetapi ikut terlibat dan menjadi contoh, minimal bagi anak-anak kita di rumah.

Refleksi

Dengan cara apakah engkau membalas kebaikan Tuhan yang engkau terima hari lepas hari?

Dengan memberi engkau akan menerima itulah hakekat ajaran kasih

Catatan Tambahan

1.Saya menulis topik ini bukan berarti saya paling sempurna, sama sekali tidak. Tetapi marilah kita belajar bersama untuk mengubah diri, barangkali perubahan itu bisa mempengaruhi tetangga sekitar. Melalui tetangga sekitar semoga bisa mengubah pandangan yang telah menganak pinak, “negara berkembang”.

2.Tulisan ini dimaksudkan sebagai dokumentasi pribadi, jika berfaedah semua karena Tuhan, jika tidak berkenan maafkan saya; dan jika sama sekali tidak membawa manfaat maka abaikan saja. Salam

Refrensi pemikiran:
Tuteh: 2018, Kartini Pendidikan: Blogpacker.

Jakarta, 1 Agustus 2018

Martin Karakabu
Guru Kampung

Baca juga artikel yang terkait dengan postingan ini;
Tahu Diri, Tahu Waktu, dan Tahu Tempat: Refleksi untuk Kita yang Disebut Guru


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tahu Diri, Tahu Waktu, dan Tahu Tempat: Refleksi untuk Kita yang Disebut Guru"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel