Menulis Opini Itu Sangat Mudah: Kisah dalam Kelas

Menulis Opini Itu Sangat Mudah: Kisah dalam Kelas
Gambar ilustrasi kegiatan Jurnalistik di SMA Kanaan Jakarta/dok pribadi
Rekan guru dan sidang pembaca yang terhormat, pekan sebelumnya mungkin diantara para sahabat pernah membaca beberapa tulisan berikut:
1.    Pendidikan untuk hidup, bukan hidup untuk pendidikan.
2.    Rendahnya kualitas guru karena guru tidak sadar tugas dan panggilannya.
3.    Indonesia bukan hanya Jawa.
4.    Negara harus hadir untuk pendidikan yang lebih baik.

Di atas adalah beberapa judul opini anak murid yang kami didik di SMTK Bethel Jakarta.
Sebelum mereka berkarya, adalah tugas saya sebagai guru Bahasa Indonesia untuk ‘membekali’ mereka dengan teknik penulisan opini yang seharusnya ditulis. Berikut teknik menulis opini yang saya ajarkan kepada mereka (lihat gambar) 
Struktur dari penulisan opini ada lima.
1.    Masalah
2.    Idealnya
3.    Fakta
4.    Permasalahan
5.    Solusi

Baiklah saya akan jelaskan satu persatu

Masalah
Secara sederhana masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara harapan dan kenyataan.

Contoh
Banjir di Jakarta.

Sampai di sini saya yakin sidang pembaca akan meragukan penjelasan saya karena yang dimaksudkan dengan kesenjangan antara harapan dan kenyataan tidak digambarkan secara jelas pada contoh yang saya sebutkan di atas. BANJIR DI JAKARTA. Supaya jelas simak bagian kedua berikut ini.

Idealnya
Idealnya atau sesuatu yang seharusnya terjadi.

Contoh:
Banjir di Jakarta.

1.    Seharusnya banjir tidak terjadi lagi karena pemerintah DKI Jakarta telah membangun waduk pluit dan beberapa tanggul di Jakarta. Misalnya di jembatan hitam, daerah Sunter, Jakarta Utara.

2.    Permasalahan banjir masih saja terjadi karena masyarakat masih saja membuang sampah di sungai.

3.    Akibatnya aliran sungai menjadi tersumbat sehingga menyebabkan BANJIR KEMBALI TERJADI.

Demikian yang saya maksudkan dengan permasalahan adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Seharusnya seperti ini tetapi kenyataannya berbeda.

***

Jadi pertama-tama saya meminta anak-anak untuk melihat permasalahan yang terjadi di sekitar mereka. Alasannya mereka tidak akan bisa menulis jika tidak ada persoalan yang mau dibahas.

Langkah kedua saya minta mereka menganalisis, mengapa hal itu sampai terjadi?

Di bagian ini harus saya katakan bahwa saya mengalami kesulitan karena dasar argumentasi yang dihadirkan oleh siswa terlalu sederhana untuk menulis opini yang mempengaruhi dan mengubah cara pandang pembaca.

Solusinya saya minta mereka mencari literatur yang terkait dengan topik dan membaca sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan gambaran umum dari topik yang dibahas.

Perlahan-lahan ada perubahan. Dibimbing dan diberi contoh kongkrit akhirnya anak-anak pun bisa.

Baiklah kita lanjutkan ke bagian yang ketiga

Permasalahan
Bagian ini saya meminta anak-anak untuk menganalisis, jika masalah kestidaksadaraan warga untuk membuang sampah pada tempatnya apa yang nanti akan terjadi?.

Bagian ini anak-anak luar biasa, cerdas. Ada yang mengatakan Jakarta akan tenggelam, ada yang mengatakan aktifitas terganggu dan lain sebagainya.

Setelah itu saya minta mereka menuliskan apa yang mereka katakan, “ya sekarang tulislah apa yang anda sampaikan tadi”.

Apa jawaban anak-anak?

Adu pak susah, ga bisa, iya pak saya sudah tahu tapi nulisnya susah dan berbagai alasan yang lain.

Bagian ini saya agak memaksa anak-anak.

“Pokoknya saya tidak mau tahu jika tidak menulis kalian tidak boleh istirahat”.

Jadi yang selesai silakan istirahat dan yang belum terima resiko karena saya tidak akan memberikan waktu istirahat.

Dan itu saya lakukan.

Ya saya sadar agak kejam dan metodenya mungkin salah. Tetapi lihatlah hasilnya di sini.

***

Keesokan harinya di depan kelas saya sampaikan tulisan si A bagus akhirnya saya muat dan itu direspon dengan sangat baik oleh teman-teman blogger. (saya tunjukan komentarnya).

***

Bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia tahu apa yang terjadi, anak-anak sangat girang dan motivasi menulisnya meningkat.

“Adu pak seriusan teman bapak ngomong seperti ini”, uuuh lope-lope dan berbagai ekspresi pun muncul di ruang kelas.

Penting!!
1.    Saat bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia menyampaikan ini layak dipublikasikan. Selanjutnya perlu dijelaskan mengapa layak, dan itu harus logis penjelasannya. Beri bukti dan contoh kongkrit.

2.    Jika yang tidak dipublikasikan, tunjukan di mana letak kesalahannya dan memperbaikinya seperti apa?

3.  Terkait nomor dua, mohon jangan marahi mereka, tepuklah pundak mereka dan katakan INI SUDAH BAGUS, TETAPI AKAN LEBIH BAIK LAGI JIKA TAMBAHKAN INI....atau kurangi ini. 

Jangan lupa mengapa seperti itu harus dijelaskan dengan logis.

4.    Terkait poin ketiga jika si anak sudah memperbaiki, apa pun kekurangannya abaikan dan harus komitmen untuk mempublikasikan tulisan tersebut di blog. Jika ini dilakukan maka anak-anak akan respek sama kita bapak dan ibu guru.

5.    Jika lakukan poin ketiga dan keempat percayalah perubahan akan terjadi (Maaf tidak menggurui hanya berbagi saja)

Kesalahan guru adalah kurangnya menjelaskan MENGAPA dan kurang memberi solusi praktis.

***

Mari kita lanjutkan pada struktur menulis opini yang terakhir berikut ini;

Solusi
Bagian ini saya berikan sugesti rohani (kebetulan saya nasrani).

Penjelasan soal pelajaran dengan materi menulis opini saya hentikan sebentar.

“Baiklah anak-anak ambil gitar dan kita menyanyi”

“Ah seriusan menyanyi” tanya salah seorang murid dengan heran.

“Yups serus bro” jawab saya dengan gaya milenial.


Berikut lirik lagu yang kami nyanyikan.

Hidup Harus Menjadi Berkat 

Pdt. D Surbakti


Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat

Reff

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup sudah jadi berkat
Catatan: bisa lihat lagunya di Youtube


Setelah menyanyi saya katakan kepada anak-anak seperti ini.

“Anak-anak untuk menjadi berkat” tidak perlu pergi jauh-jauh ke ujung dunia dan melayani orang miskin”. Jika itu terjadi “Puji Tuhan” kata saya.

Namun untuk saat ini dan di sini kalian pun bisa Tuhan pakai untuk menjadi berkat lewat menulis. Sunyi seisi ruangan.

Kemudian saya lanjutkan kalian bisa menjadi berkat dengan menulis. Caranya memberikan solusi praktis agar orang yang membaca tulisanmu langsung menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian saya menyuruh mereka menuliskan solusinya. Hasilnya seperti ini (klik dan lihat).

Demikian cerita saya mengajar materi menulis opini di depan kelas. 

Adakah kritik dan saran untuk perbaikan lebih lanjut? Salam damai

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menulis Opini Itu Sangat Mudah: Kisah dalam Kelas"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel