Dosen PBSID Uncen: Mendidik dengan Hati Membuat Calon Guru Menjadi Berarti

Dosen PBSID Uncen: Mendidik dengan Hati Membuat Calon Guru Menjadi Berarti
Barisan dosen PBSID Uncen/Foto Grace Mantiri face book
Saya percaya setiap kita tentunya pernah mengalamai sentuhan pendidikan; entah itu pendidikan non formal melalui peran orang tua di rumah; maupun pendidikan formal melalui guru atau dosen di sekolah.

Pengalaman perjumpaan dengan mereka yang mendidik kita pastinya memberi kesan yang beragam. Ada suka, ada duka, ada jengkel, emosi, bahkan mungkin ada yang menimbulkan luka batin.

Menurut saya itu lumrah dan manusiawi sekali. Namun saya percaya setiap proses pendidikan, apapun situasinya selalu memberi kesan dan pelajaran tertertentu bagi kita yang mengalaminya.

Kali ini saya ingin berbagi kisah tentang pengalaman perjumpaan dengan dosen-dosen saya di Universitas Cenderawasi (Uncen) Jayapura, Papua. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni. 

*
Universitas cenderawasih itu di mana si?,
Kok ga pernah dengar ya...

Saya sering mengalamai pertanyaan semacam itu dari beberapa rekan guru, bahkan ada yang sangat meragukan kemampuan saya hanya karena saya lulusan dari Uncen.

Itu biasa, di Jakarta ini saya sering mengalamai hal-hal semacam itu. Anggap saja angin lalu; perlu sobat tahu walaupun dari ufuk timur almamater saya, namun saya sangat bangga dengan pendidikan yang diberikan oleh dosen-dosen saya di Papua.  

Mereka tidak hanya mengajar tetapi bagaimana membentuk karakter mahasiswanya agar unggul dalam prestasi, santun di dalam budi pekerti, dan tangguh di dalam iman. Berikut sosok orang-orang hebat itu.

ALEDA MAWENE

Ini adalah dosen pembimbing saat menulis skripsi. Ada begitu banyak kesan pada sosok ini. Namun satu yang paling melekat dalam ingatan saya adalah kesahajaan beliau. Penampilannya sangat rapi.

Apakah beliau menggunakan jas mewah atau make up tebal?

Jawabannya tidak.

Natural, sederhana, dan apa adanya. Selama 4 tahun dibimbing beliau saya tidak pernah melihat beliau marah. Pokoknya sosok ini sangat menginspirasi sekali. Kesahajaan, kerapian, dan tutur katanya yang penuh hikmat membuat sosok ini terlalu sempurna di mata seorang mahasiswa badung macam saya.

Beliau mengajar mata kuliah kurikulum dan satuan pendidikan. Jika saya dan rekan rekan mahasiswa (PBSID’05) yang bingung membuat Rancangan Pembelajaran selalu dibimbing dengan penuh cinta dan kesabaran yang saya sebut melampaui batas nalar. Sabar bangat.

Dari sosok ini saya belajar menjadi guru yang sebenarnya adalah menjadi contoh kongkrit bukan sebatas kata. Untuk apa pandai berkata-kata jika tidak mampu melaksanakan apa yang dikatakan.

Bukankah sabar hanyalah kata kosong, tanpa makna. Kata itu akan memiliki arti jika kita tahan uji dalam setiap gelombang kehidupan. Itu yang saya belajar dari Aleda Mawene dosen terbaik yang pernah membimbing saya.  

Terima kasih banyak bu telah mengajari saya dengan penuh kesabaran dan cinta yang paling tulus. Semoga ibu selalu sehat dan terus menjadi berkat untuk calon guru. Salam hangat dari mantan mahasiswamu.

TRI Handayani

Sosok ini takkan lekang oleh waktu. Hadirnya selalu digandrungi mahasiswa. Gaul dan supel itu ciri khasnya di mata saya. Mungkin juga mahasiswa PBSID 05 saya kira mereka sependapat dengan saya.

Walau usia mengarah senja, enerjik dan cekatan tidak kalah dengan mahasiswa yang usia tergolong lebih muda dari beliau.

Beliau orang Jawa tetapi dialek Papua yang dihadirkan saat bersua mahasiswanya, benar~benar menghadirkan ciri yang membedakan dengan dosen yang lain.

Beliau mengajar mata kuliah kritik sastra. Mumpuni sekali kemampuan beliau soal sastra.

Tri Handayani dosen yang paling gaul, dari beliau saya belajar untuk melakukan pendekatan yang baik kepada siawa. Tidak ada cara lain yang paling efektif sebelum engkau mengenal dan memasuki kehidupan mereka (Baca: anak murid).

Itu wejengan yang paling sakti dari beliau waktu saya PPL dan mengalami kesulitan melakukan pendekatan kepada murid.

Biasa guru PPL selalu dibully oleh siswa (hehhe pengalaman pribadi ya).

Nasehat yang luar biasa itu saya ingat sampai menjadi guru di Jakarta. Hasilnya sobat bisa lihat di sini (kalau mau lihat).

Terima kasih banyak bunda untuk semua hal baik yang diajarkan pada saya. Terima juga sudah sabar membimbing anak kepala batu ini hehe...

Terima kasih juga telah menjadi teman, ibu dan sahabat yang luar biasa. Semoga ibu selalu sehat. Salam @


ROBERT MASRENG

Saat saya menjabat sebagai ketua komisariat PBSID, beliau adalah ketua program studi. Hehhe menurut saya komposisi ideal yang menghadirkan kerja sama yang apik antara mahasiswa dan dosen.

Paling mengerti sama mahasiswa. Jika ada kegiatan koordinasinya tidak pakai ribet (kata anak zaman now), yang penting tujuannya jelas, maanfaat, maupun sasaran kegiatan terukur pasti sip hehe...

Sangking dekatnya saya pada sosok ini, kadang saya jadi mahasiswa yang kurang ajar hehe...tidak sadar kalau beliau adalah dosen dan saya adalah mahasiswa. Maafkan saya pak, baru sadar semoga pengakuan ini tidak terlambat untuk dibukakan pintu maaf.

Dari sosok ini saya belajar bahwa siswa yang hadir di sekolah tidak semuanya anak-anak cerdas dan orang berduit. Jadi sikap empati dan selalu menghadirkan solusi alternatif bagi siswa adalah ciri guru zaman now yang paling ideal. Soal ini bisa baca pada postingan saya yang berjudul ‘gadis malang’.

Terima kasih banyak bapak untuk semua hal dan kenangan yang pernah ada di kampus biru. Semuanya terlalu indah untuk dilupakan. Semoga bapak selalu sehat.

Ina Lefan

Hanya dosen ini yang disebut kaka oleh mahasiswa. Setidaknya mahasiswa PBSID 05. Gayanya metal. Sepatu bot ala sniper cantik di filim holiwod itulah yang dikenakan belau. Kegitan mahasiswa rasanya tidak lengkap tanpa beliau. Sosok yang bagi saya lebih tepat saya sebut aktifis kampus.

Beliau mengajar mata kuliah sastra dan analisis puisi. Namun saya lebih mengenalnya sebagai seorang kakak yang membimbing adik- adik mahasiswa soal organisasi kampus. Luar biasa keaktifannya dalam berbagai kegiatan kampus. Baik akademik maupun kegiatan – kegiatan yang bersinggungan langsung dengan mahasiswa. Bicara tentang sastra, analisis puisi kakak ini sudah jagonya (dialek Papua, bisa dibaca kakak ini sudah ahlinya).

Kalau mau kenalan dengan kakak cantik ini, bisa mulai dengan mengunjungi profil face booknya. Di sini@

Melalui sosok dosen muda nan enerjik ini, saya menyebutnya kaka Ina, saya belajar menjadi guru semua orang bisa. Bahkan anak murid saya Hellen Yoanita pernah bilang, semua orang bisa menjadi guru, tetapi guru yang mampu mendengarkan tidak semua guru bisa melakukan, dari kaka Ina saya belajar menjadi guru yang mampu mendengarkan siswanya dengan rasa. Terima kasih kaka Ina dirimu inspirasi sekali. Sio kakak bagus se (dialek dan prokem Papua). Artinya kaka ini sangat luar biasa.

Barth Kainakaimu
Ini dosen pembimbing saya saat PPL di SMA Negeri 1 Abepura Jayapura Papua. Luar biasa saya ditempa oleh beliau. Mental dan fisik benar-benar diuji.

“kamu orang kalau jadi guru, jadilah guru yang benar jangan setengah-setengah”.

Itu kata-kata yang paling saya ingat dari beliau saat menghadiri ujian praktik lapangan di SMA Negeri 1 Abepura. Sunggu wejengan dan tempaan yang luar biasa menguras stamina.

Bolak – balik kampus dan sekolah nyaris setiap hari saya lakukan selama kurang lebih sebulan PPL. Hanya satu yang saya harapkan, cepat tanda tangan. Namun soal tanda tangan bukanlah perkara mudah, semudah membalikan telapak tangan.

Dimarahin dulu, disuruh ulang dengan deadline yang super minim. Salah sedikit ulang dan berbagai kisah yang lain. Namun dari proses itu saya harus berterima kasih dan menaruh hormat yang luar biasa kepada pak Barth Kainakaimu.

127 suarat lamaran pekerjaan pada sekolah-sekolah di Jakarta sudah saya lokoni, itu biasa, jalan kaki dari PGC Jakarta Timur sampai Tanjung priok Jakarta Utara (tahun 2013) karena ongos habis saat awal-awal membangun karir di Jakarta itu sudah biasa, sebab saya dibentuk dengan cara yang lebih keras dari itu.

Nyasar kemana-mana di awal membangun karir di Jakarta itu sudah biasa karena saya dibentuk untuk menjadi seorang petarung oleh dosen-dosen saya. Akhirnya saya bisa berkarya di SMA Kristen Kanaan Jakarta dan SMTK Bethel Jakarta semua itu karena peran para dosen yang membentuk dan mengisi hidup saya. Terima kasih pak Barth Kainakaimu dan para dosenku yang luar biasa. Semua hal yang dilakukan baru saya tahu manfaatnya sekarang, di Jakarta dan menjadi guru.

Sunggu semua indah pada waktunya.


Bersambung........@


Kesimpulan
1.    Semua orang bisa menjadi guru tetapi tidak semua guru mampu menginspirasi seperti ibu Aleda Mawene, bunda Tri Handayani, pak Robert Masreng, kaka Ina Lefan. Mereka mengajar dengan hati untuk memberi arti pada kata, Papua Memanggilmu Menjadi Guru.
2.    Tidak selamanya hal yang menjengkelkan itu adalah wujud dari kebencian, tetapi justru sebaliknya. Cinta paling mendalam yang diharapkan. Terima kasih pak Barth Kainakaimu, apa yang dilakukan sunggu manfaatnya saya rasakan saat ini. Terima kasih banyak bapak. Semoga selalu diberkati dan panjang umur untuk terus menjadi berkat bagi tanah Papua.

Salam hormat untuk barisan dosen hebat di Unicersitas Cenderawasi; Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dosen PBSID Uncen: Mendidik dengan Hati Membuat Calon Guru Menjadi Berarti"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel