Ini Jawaban Saya Atas Pertanyaan Teman Blogger pada Postingan yang Berjudul Kartu Soal Bahasa Indonesia


Ini Jawaban Saya Atas Pertanyaan Teman Blogger pada Postingan yang Berjudul Kartu Soal Bahasa Indonesia
Tulisan ini hadir ke ruang baca karena pertanyaan dan pernyataan (via komentar blog) dari dua teman blogger, mbak Risna dan mas Bumi yang merasa sulit dan bingung dengan postingan saya yang berjudul Kartu Soal Bahasa Indonesia, Materi Debat dan Observasi.

Jadi tulisan ini semacam jawaban saya atas pertanyaan maupun pernyataan yang disampaikan pada postingan tersebut.

Saat blogger maupun pembaca yang bukan profesi sebagai guru menyatakan kebingungannya ketika membaca kartu soal yang saya buat, itu wajar karena mereka bukan guru. Tetapi, jika guru yang bingung dengan kartu soal yang saya buat maka bukan wajar tetapi pertanyaan lanjutan dari saya.

Ibu atau bapak bingung di bagian mana?

Jika paparan soal yang membuat bingung maka tugas saya untuk menjelaskan karena wajar jika gurupun bingung dengan soal yang saya buat karena paknya beda. Itu kalau yang bertanya guru yang paknya bukan Bahasa Indonesia.  

Apabila yang bingung guru Bahasa Indonesia maka saya tidak bisa jawab, justru saya ragu dengan profesionalitasnya sebagai guru. Namun jika pernyataannya adalah itu salah seharusnya begini itu hebat; dengan catatan yang disampaikan adalah benar. Tetapi yang disampaikan justru salah maka mohon maaf saya tidak akan menanggapi sedikitpun.
Baiklah kembali ke kartu soal. Jadi kartu soal adalah bagian dari perangkat mengajar, seperti silabus, RPP, maupun kisi-kisi. Kartu soal dibuat untuk ditelaah lebih lanjut oleh guru senior yang bidangnya sama.

Contoh kartu soal yang dibuat oleh guru Bahasa Indonesia, idealnya ditelaah oleh guru Bahasa Indonesia yang lebih senior (bukan usia tetapi pengetahuan). Itu jika berhubungan dengan materi.

Jika berhubungan dengan kurikulum maka fungsinya sebagai kontrol dan administrasi. Fungsinya sebagai kontrol maka akan dilihat, soal yang diujikan apakah sudah sesuai dengan materi yang diajarkan atau tidak. Kira-kira seperti itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah kartu soal dibuat dari mana?

Jawabannya adalah dibuat oleh guru bidang studi, acuannya dari Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

RPP dari mana?

Jawabannya RPP dari silabus. Maksudnya RPP dibuat oleh guru bidang studi dengan acuan silabus.

Silabus dibuat secara bersama-sama oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan acuannya tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam UUD 1945 nomor 20 tahun 2003 pasal 9 maupun intruksi menteri pendidikan pada masing-masing bidang studi dan jenjang.

Khusus Bahasa Indonesia jenjang SMA lihat Di SINI.

Jangan tanya lagi tujuan pendidikan nasional siapa yang buat karena jalurnya sudah beda dan saya tidak ingin menjawab hal itu.

Catatan tambahan:

Silabus bisa juga dibuat sendiri (oleh guru yang bersangkutan) tetapi cukup melelahkan. 
***
Jadi mbak Risna dan mas Bumi itu jawaban saya, kalau masih bingung juga tanya lagi biar saya ada ide untuk buat artikel hehhehee...

Kritikan silakan akan saya terima dengan senang hati.
***
Mas Martin saya bingung soalnya, bukan kartu soal. Misalnya mbak Risna yang tanya ya...

Baiklah saya akan jawab.

Contohnya soal yang ini ya

Cermati pernyataan-pernyataan berikut!

(1)  Simpulan (2) Argumentasi (3) Pernayataan Umum (4) Deskripsi bagian(5) Pembukaan (6) Isi (7) Penutup

Manakah yang termasuk struktur teks observasi....
A.   (2) (3) (1)
B.   (2) (4) (6)
C.   (5) (6) (7)
D.   (3) (4) (7)
E.   (5) (4) (1)
Kunci Jawaban:   D    

Penjelasan
Jadi struktur teks observasi itu ada 3. Pertama disebut pernyataan umum.
Contoh:
Jakarta adalah ibu kota negara republik Indonesia.

Kedua adalah deskripsi bagian.
Contoh:
sebagai negara kepulauan Indonesia terdiri dari 5 pulau besar. Diantaranya pulau Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatera.

Terakhir adalah penutup.
Penutup ini berisi kesimpulan dari pembukaan dan isi.
Contoh:
Indonesia adalah negara kepulauan dengan ibu kotanya Jakarta.

Baca Juga:

***
Nah materi itu sudah dijelaskan, opsi-opisi yang lain seperti simpulan, argumentasi, dan isi hanyalah ‘jebakan’ yang berfungsi untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang diujikan.

Jika pertanyaannya saya ubah menjadi sebutkan tiga struktur dalam teks observasi. Maka yang terjadi adalah hafalan bukan pemahaman.

Pertanyaan model ini, tidak akan membuat siswa cerdas karena siswa hanya bisa menghafal tanpa memahami fungsi dari struktur itu apa dan contohnya bagaimana.


***
Mas Martin kalau seperti itu, berarti soal ini ambigu dong.
Ya, ambigunya di bagian mana?
Ambigunya di sini mas...

(1)  Simpulan (2) Argumentasi (3) Pernyataan Umum (4) Deskripsi bagian(5) Pembukaan (6) Isi (7) Penutup

1.    ( 1) Simpulan sama dengan penutup (7) mas Martin.
2.    ( 5) Pembukaan sama dengan (4) Pernayataan Umum Om Martin.
3.    (6) Isi sama (4) Deskripsi bagian kak Martin.

Baiklah om tante semuanya saya jawab.
1.    Itu benar. Benarnya adalah penutup berisi kesimpulan.
2.    Deskripsi bagian benar fokusnya adalah isi jika menulis teks observasi.
3.    Benar juga pembukaan sama dengan deskripsi bagian karena menjadi bagian paling awal dari rangkaian penulisan teks observasi.

Tetapi om tante sekalian, yang ditanyakan bukan isi dari struktur observasi melainkan manakah (Pilih) yang termasuk struktur teks observasi, (lihat opsi-opsi pada soal).

Dasar acuannya adalah materi dari silabus yang merupakan terjemahan dari intruksi Kementerian Pendidikan Nasional tentang pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks. (penjelasannya sangat banyak).

Baca Juga:

***
Mengapa persoalan ambigu bisa ditanyakan walau sebenarnya tidak ambigu. Berikut penjelasanya.
Ada banyak hal yang membuat siswa beranggapan soal tersebut ambigu (Anggap saja guru membuat soal tidak ambigu ya hehehe).

Menurut saya masalahnya ada pada cara membaca soal.

Jika soal yang teramat panjang di atas dibaca dari nomor satu (lihat gambar), maka anggapan ambigu bisa terjadi.

Mengapa demikian?

1.    Kurang memahami perintah pada soal.
2.    Kurang kosentrasi.
3.    Guru tidak sampaikan kata kunci dari setiap penjelasannya di depan kelas.

Bagaimana supaya hal itu tidak terjadi?

1.    Pertama kosentrasi, itu sudah pasti. Hal ini dimulai dari penjelasan guru di depan kelas, siswa harus kosentrasi (semoga saja penjelasan guru tidak membosankan siswa)
2.    Kedua lihat perintah baru baca soal. (lihat gambar/tanda panah nomor 2)

Contoh:

Siapakah tokoh utama dari penggalan cerpen di atas

Nah tipe soal seperti ini hanya membuat pusing siswa (pengalaman pribadi waktu SMA).

Mengapa pusing?

Jawabannya ada 3 hal yang membuat pusing.

     1.    Teksnya panjang,
2.    Banyak hal yang dibahas

Dalam soal itu ada alur, ada latar, ada banyak hal yang berhubungan dengan sastra (cerpen). Eh ujung-ujungnya ditanya tokoh kwkwk, hal semacam inilah yang pada akhirnya memberi kesan Bahasa Indonesia itu gampang-gampang sulit.

Gampang kalau belajar,
Sulit kalau tidak teliti.

Jadi solusinya sebagai berikut:

1.    Baca dan pahami apa perintahnya (lihat gambar/nomor 2),
2.    Lalu cari di dalam bacaan tersebut (lihat gambar/nomor 3).
3.    Kemudian cek pilihan jawaban yang tersedia (lihat gambar/nomor 4).

Misalnya yang ditanya tokoh utama, tinggal cari berapa nama yang muncul, kemudian pilih nama yang sering disebut dalam soal tersebut. Itulah tokoh utama, kelar urusan dan ga pake ribet.

3.    Guru hanya menjelaskan materi tanpa menyampaikan kata kunci.

Idealnya dalam setiap penjelasannya guru harus memberi penekanan pada kata kunci (maaf jika kesannya menggurui sekali, ini hanya sharing ya).

Contoh kata kunci:

Debat secara sederhana bisa dimaknai sebagai cara seseorang mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa yang dinginkan..........

Pengertian di atas mengandung tiga kata kunci. Pertama adalah cara, kata kunci kedua adalah mempengaruhi, dan kata kunci yang terakhir adalah mengikuti.

Jadi, jika soal uraian menurut saya jawaban siswa tidak harus sama dengan buku. Apapun redaksi penulisan siswa, selama mengandung kata kunci minimal 2. HARUS DIBENARKAN.

Mengapa harus dibenarkan?
1.    Alasan pertama guru mengajari siswa untuk tahu dan bisa melakukan bukan menghafal supaya memperoleh nilai UN 100.
2.    Poin pertama bisa terjadi jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bernalar, BUKAN MENGHAFAL JAWABAN, mengerti bukan hanya sekedar tahu.
3.    Ilmu sosial tidak ada yang pasti, kecuali matematika 5 X 5 pasti 25 jawabannya. Selain itu salah. Mana mungkin Bahasa Indonesia disamakan dengan Matematika?

Silakan merenung, jika layak untuk direnungkan!

Contoh pada tataran materi

1.    Jika membahas materi unsur-unsur sastra kata kuncinya hanya dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
2.    Jika membahas unsur intrinsik kata kuncinya ada 7 (latar, alur, tokoh, dan seterusnya).
3.    Jika membahas latar kata kuncinya ada dua (latar sosial, latar tempat);
4.    dan seterusnya (tanya sendiri ke guru Bahasa Indonesianya masing-masing)
***
Kurang lebihnya seperti itu, semoga bisa menjawab kebingungan sahabat blogger yang bertanya via komentar blog saya. Jika semua bingung nanti kalau liburan sekolah baru saya tulis analisis soal dan pembahasannya hehehee...

Kesimpulan
1.    Kartu soal adalah bagian dari perangkat pembelajaran yang harus dibuat oleh seorang guru.

2.    Fungsi kartu soal adalah untuk memberikan gambaran umum kepada penelah untuk melihat kesesuian antara materi dan tujuan pembelajaran. (Banyak tetapi fungsi ini hanyalah rangkuman dari pernyataan saya sebelumnya).

3.    Soal HOTS (higher order thinking skills) dibuat untuk membekali kemampuan siswa dalam menganalisis maupun mencipta (membuat suatu karya). Jadi tujuannya bukan supaya siswa menghafal kemudian memperoleh nilai bagus. Tetapi tahu manfaatnya untuk apa dan cara menggunakannya bagaimana.

4.    Belajar supaya tahu dan bisa melakukan (siapa tahu ada yang jadi blogger), bukan menghafal supaya mendapatkan nilai bagus. Setelah itu lupa dan tidak tahu apa – apa.

STOP BUAT DINAS SENANG!

STOP BUAT KEPALA SEKOLAH BANGGA!

CUKUP SUDAH KEBOHONGAN INI!!!!

(nomor 3 akan dijelaskan secara lengkap pada postingan berikutnya)

Catatan Tambahan

1.    Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkerdilkan guru siapapun, tetapi hanyalah usaha sederhana saya untuk mempertanggung jawabakan karya intlektual  yang dihadirkan di ruang publik, sekaligus cara saya menjawab pertanyaan sahabat blogger. Jadi mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan kata-kata saya.

2.    Mohon maaf juga jika kesannya menggurui. Itulah saya dengan segenap kekurangannya. Selanjutnya saya akan sangat senang jika rekan-rekan guru, terutama guru Bahasa Indonesia hadir dan mengkritisi apa yang saya tulis.

Demikian, salam damai untuk semuanya.

 Artikel yang terkait dengan postingan ini.
Ini Jawaban Saya Atas Pertanyaan Teman Blogger pada Postingan yang Berjudul Kartu Soal Bahasa Indonesia

Contoh Kartu Soal Uraian dan Pilihan Ganda

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ini Jawaban Saya Atas Pertanyaan Teman Blogger pada Postingan yang Berjudul Kartu Soal Bahasa Indonesia "

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel