Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah


Kegiatan belajar dan mengajar sastra di sekolah harus diubah. Caranya cukup sederhana, ajaklah siswa ‘ngopi bareng’. Setelah itu lihatlah potensi tersembunyi pada siswamu. Membanggakan sekali melihat siswa berkarya di luar batas nalar seorang guru.

Tulisan yang diberi judul Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah, membahas tiga hal. Pertama tentang proses penciptaan karya sastra (cerpen, novel, dan drama), kedua soal unsur-unsur yang membangun karya sastra (yang dibahas hanya unsur intrinsik). Terakhir (ketiga) adalah tips mengajar sastra kepada siswa-siswi di sekolah sesuai dengan perkembangan zaman dan letak geografis. Bagian ini dibagi menjadi dua, pertama mengajar sastra pada sekolah-sekolah di pedalaman, kedua trik mengajar sastra pada sekolah-sekolah di wilayah urban.

Sastra Sebagai Tiruan Kehidupan
Sastra adalah tiruan kehidupan. Artinya persoalan nyata di masyarakat ‘diangkat’ oleh penulis novel atau cerpenis. Masalah-masalah yang dijadikan data primer sangat beragam; bisa masalah sosial, persoalan kemanusiaan, atau masalah pendidikan. Selanjutnya melalui proses kreatif dan imajinasi dibuatlah dalam bentuk novel, drama, maupun cerpen.

Jadi karya sastra bukanlah pekerjaan menghayal, kemudian di tulis oleh novelis atau cerpenis. Bukan seperti itu, tetapi ada persoalan nyata yang dianggat (baca: ditulis).

Contoh:
Laskar pelangi (sinetron dan novel). Itu bukan hayalan Andrea Hirarta, melainkan seorang Andrea Hirarta ‘melihat’ persoalan pendidikan di Bangka Belitung, kemudian ditulis dalam bentuk novel yang berjudul Laskar Pelangi.

Sama halnya dengan film etnografi yang berjudul Matahari dari Timur yang berkisah tentang anak-anak Papua; potret dilematis antara kemajuan peradapan ataukah mempertahankan budaya dan tradisi.

Jadi keliru jika ada pemahaman bahwa orang-orang sastra adalah kumpulan manusia yang suka menghayal. Benar ada imajinasi yang berperan tetapi tidak sepenuhnya hayalan yang ditonjolkan melainkan situasi nyata yang diangkat.

Proses penciptaan sebuah karya sastra, gambarannya adalah sebagai berikut:
Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah
Gambar bagan 1.1
Penciptaan karya sastra (lihat gambar di atas); prinsip dasarnya adalah dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia.  Selanjutnya saya coba jelaskan satu persatu, bagian-bagian yang terdapat dalam bagam 1.1.

Manusia
Manusia yang dimaksudkan adalah saya, dia, mereka dan kita semua. Namun dalam konsep penulisan ini manusia yang saya maksudkan merujuk pada para novelis dan cerpenis.

Manusia dalam kehidupan sosialnya tentu mengalami berbagai persoalan.

Contoh:
1.     Masalah sosial dan kemanusiaan (miskin kaya, pelacur, anak putus sekolah dan lain sebagainya).
2.     Persoalan pendidikan (kekurangan guru, kurangnya pendidikan dalam keluarga, dan berbagai persoalan yang lain).

Persoalan-persoalan tersebut selanjutnya menjadi permenungan seorang penulis novel, cerpen, dan penulis skenario film atau naskah drama.

Penjelasannya sebagai berikut:

Kontemplasi
Kontemplasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya renungan. Selanjutnya saya pakai kata kerja berkontemplasi artinya merenung. Berpikir dengan sepenuh hati terhadap suatu persoalan (KBBI).

Contoh
Anak Betawi menjadi peminta-minta di peremapatan lampu merah Jalan Yos Sudarso Jakarta Utara, semantara di dalam mobil adalah pendatang yang menjadi tuan di atas tanah Betawi. Idealnya anak Betawi harus menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Namun kenyataan terbalik.

Hal-hal seperti inilah yang menjadi data primer dari penulisan sebuah karya sastra. Entah itu naskah drama, cerpen, ataupun novel.

Jadi para penulis itu melihat kenyataan kemudian berandai-andai (imajinasi). Seandainya mereka sekolah dan bisa mendapatkan pekerjaan pasti anak-anak ini tidak menjadi peminta-minta di lampu merah.

Nah, bagian inilah yang disebut oleh mereka-mereka yang tidak paham proses penciptaan karya sastra, menyebut mahasiswa sastra atau kumpulan sastrawan sebagai kumpulan manusia yang suka menghayal (pengalaman pribadi); padahal tidak demikian, mereka ini (sastrawan) orang-orang yang melihat kenyataannya dan ‘menulis dengan hati’. Karya-karya mereka selanjutnya menjadi refleksi bersama untuk menjernihkan nurani. Contoh:
1.     Novel Sali yang ditulis oleh Dewi Linggasari. Membahas tentang feminisme, budaya patriarkat, dan pendidikan dalam keluarga. Secara khusus pada masyarakat di lembah Baliem Papua.

2.     Women at Poin Zero yang ditulis oleh Nawal El Sadawi (penulis Mesir). Membahas tentang kesewenang-wenangan laki-laki atas wanita hanya karena agama dan budaya patriarkat di Mesir.

3.     Atau film Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirarta. Membahas tentang masalah kekurangan guru dan kerinduan anak-anak Bangka Belitung untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Bagaimana bisa menjadi karya sastra, tentu ada peran Bahasa di dalamnya.

1.     Ada teknik penulisan yang harus dikuasi.
2.     Ada gambaran tokoh maupun karakter yang harus dipilih maupun dipilah untuk menghasilkan sebuah karya yang bermutu.
3.     Ada runtutan alur yang harus dipahami secara baik oleh penulis.
4.     Ada pesan tersirat maupun tersurat yang seharusnya disampaikan dan ditonjolkan dalam setiap adegan ataupun alur cerita.

Poin-pon di atas saya jelaskan pada bagian unsur-unsur yang membangun karya sastra berikut ini.

Sastra Dibangun dari Dua Unsur
Bicara soal sastra tidak sebatas cerpen, drama, atau novel. Masih ada yang disebut puisi, prosa, hikayat, gurindam, pantun. Saya dengan sengaja tidak membahas hal-hal tersebut secara luas. Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak membahasnya.
1.     Alasan secara personal semakin banyak yang dibahas kekawatiran saya adalah menjadi bias sehingga persoalan yang mau saya sampaikan tidak dipahami; karena kemampuan menulis saya yang masih amatiran.

2.     Bicara tentang unsur intrinsik dalam sastra ada beberapa perbedaan yang cukup mendasar antara puisi dengan cerpen, novel, maupun drama. Hal ini akan dibahas pada postingan berikutnya.
***
Kembali ke topik

Setiap kita yang mengenyam pendidik formal (SD, SMP, SMA, PT) tentunya bertemu guru Bahasa Indonesia. Pelajaran yang diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia ada dua bagian. Pertama disebut sastra. Kedua disebut Bahasa. Bisa lihat gambar berikut:
Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah
Bagan dan gambar 2.1
Bagian sastra sobat semua tentunya pernah belajar tentang cerpen, novel, drama, pantun, dan lain – lain. Bagian bahasa sobat pasti pernah diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia tentang menulis surat, pidato, membaca, dan lain sebagainya.

Selanjutnya bagian Bahasa dan sastra dikemas menjadi empat keterampilan, yakni;
1.     Keterampilan berbicara,
2.     Keterampilan menulis,
3.     Keterampilan membaca, dan
4.     Keterampilan menyimak.

Terkait empat keterampilan berbahasa tidak dijelaskan pada postingan ini karena saya hanya bicara soal sastra.

Sastra secara khusus cerpen, novel, maupun drama dibentuk dari dua unsur.
1.     Unsur intrinsik dan
2.     Unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik yaitu unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya itu sendiri. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur di luar karya sastra namun erat kaitannya dalam pembentukan sebuah karya sastra. Soal ini tidak akan saya jelaskan pada postingan ini, melainkan pada postingan berikutnya. Kali ini saya ingin fokus membahas tentang unsur intrinsik.

Unsur intrinsik dalam karya sastra meliputi
1.     Tema
2.     Tokoh
3.     Penokohan
4.     Alur
5.     Latar
6.     Amant

Apa itu tema?
Banyak sekali para ahli yang memberikan definisi tentang tema dengan redaksi yang bermacam-macam. secara sederhana tema adalah Inti pokok atau ide utama dalam sebuah tulisan.

Contoh:
Dalam novel Laskar Pelangi, jika cermati secara seksama ada 4 hal yang ditonolkan oleh Andrea Hirarta.
1.     Persoalan guru.
2.     Sarana dan prasarana.
3.     Cita-cita (fokus pada tokoh Lintang).
4.      Kesejateraan

Mulai dari persoalan guru, bangunan sekolah yang seadanya, sampai pada keinginan tokoh Lintang untuk mengunjungi Prancis.

Runtutan peristiwa itu muaranya adalah soal pendidikan, jadi ide utamanya tentang pendidikan. Itulah yang saya maksudkan dengan tema.

Apa itu tokoh?
Singkatnya tokoh adalah orang-orang yang terlibat dalam sebuah karya sastra. Jadi pertanyaan apa itu tokoh, jawabannya adalah orang.

Apa itu penokohan?
Jawabanya adalah karakter, sifat, atau tabiat para tokoh. Misalnya pemarah, sabar, bijaksana, dan lain sebagainya.

Apa itu alur?
Singkatnya alur adalah jalan cerita dari sebuah novel, cerpen, atau teks drama.

Apa itu latar?
Latar adalah tempat maupun waktu yang terdapat dalam cerpen, novel, atau drama.

Contoh:
1.     Di kota tua Jakarta Utara (tempat)
2.     Pada sore hari (waktu)
3.     Di dalam kamar (tempat)
4.     Pada malam hari (waktu)

Apa itu amanat?
Dalam karya sastra amant dipahami sebagai pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan ini bisa tersurat maupun tersirat. Jadi pertanyaan apa itu amanat? Jawabannya amanat adalah pesan.
**
Kesimpulan tentang intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya itu sendiri. Proses ini tidak bisa dilepaskan dalam penulisan novel, cerpen, maupun naskah drama. Melekat dan saling membutuhkan demi keutuhan sebuah karya.

Pertanyaan bagaimana guru Bahasa Indonesia seharusnya mengajari hal ini?
Simak ulasannya berikut:

Mengajar Sastra Kepada Siswa-Siswi di Sekolah
Sastra merupakan materi pokok dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Soal-soal tentang sastra sering muncul dalam ujian nasional. Artinya materi sastra harus diajarkan secara serius kepada siswa sehingga peserta didik mampu mengerjakan soal Ujian Nasional (UN) dengan baik.

Fakta di lapangan (baca: sekolah) Bahasa Indonesia sepertinya terlampau sulit buat siswa, padahal setiap hari kita berbicara Bahasa Indonesia. Artinya ada yang salah dengan proses pembentukan dari dalam ruang kelas.

Contoh kasus:
Sebagai wali kelas saya sering mendengar keluhan siswa seperti ini.
1.     Adu pak bosan bangat diajarin guru itu, ceramah melulu.
2.     Adu pak ngantuk saya jika diajarin oleh guru itu ngomongnya ga jelas, mana suaranya kecil lagi.
3.     Adu pak ngapain si materinya sudah ada di dalam buku tetapi gurunya suruh nulis lagi di buku. Untuk apa coba?

Hal-hal di atas sering saya temui saat menjadi wali kelas.

Agar hal-hal di atas tidak terjadi lagi bapak ibu bisa mengajari sastra dengan cara berikut:

Teknik ngopi bareng
Teknik ngopi bareng yang saya maksudkan bukan berarti bapak-ibu guru harus mengajak siswa minum kopi di kantin sekolah. Bukan itu maksud saya. Tetapi mengajak siswa dengan santai, ciptakan suasana penuh persahabatan sambil nonton film.

Jangan kaku apalagi menciptakan jarak antara guru dan murid, membaur dan bersama-sama dengan siswa untuk nonton film. Rekomendasi saya film-film berikut:
1.     Laskar pelangi
2.     Mata Hari dari Timur.
3.     Katanya Tanah Surga
4.     Indonesia Tanah Air Beta.
5.     Tanah Borneo
6.     Denias.

Setelah nonton, guru bisa menyuruh satu atau dua orang siswa menceritakan kembali film yang ditonton tersebut.

Ini penting!
1.     Untuk mengukur pemahaman siswa termasuk daya tangkap.
2.     Menganalisis keseriusan siswa saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
3.     Guru bisa tahu kemampuan mendengar dan berbicara siswa.

Setelah proses di atas selesai. Langkah terakhir guru merangkum apa yang dikatakan siswa.

Misalnya:
Yang dikatakan Radit tadi tentang orang-orang yang terlibat, bahkan dibilang kejam oleh Radit, dalam sastra disebut tokoh. Artinya orang yang terlibat dalam cerita, baik itu cerpen, novel, maupun drama. Sedangkan kata kejam yang dikatakan oleh Radit pada adegan ........ itu dalam sastra disebut penokohan, artinya karakter atau sifat dari orang-orang yang terlibat dalam sebuah cerita.

Lakukan terus sampai unsur-unsur intrinsik bisa dijelaskan semua oleh bapak ibu guru. Proses ini sangat menarik karena saya pernah melakukan. Semakin menarik lagi karena kita (baca: guru) mengajak siswa untuk mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Jadi siswa tidak pasif melainkan aktif.
***
Jika siswa aktif maka kegiatan  belajar Bahasa Indonesia akan meningkat. Alasanya sederhana siswa merasa dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Bukan hanya sebagai pendengar pasif dari ceramah guru yang sangat membosankan itu.

Setelah siswa benar-benar paham konsep intrinsik dalam sastra, beri tugas membuat video. Contoh videonya bisa dilihat disini. Taraf video percayalah siswa akan semakin paham soal unsur intrinsik karena siswa belajar untuk konsep dan belajar menemukan konsep.
***
Sampai di sini saya tahu, bapak dan ibu guru yang bertugas di daerah pedalaman yang minim fasilitas internet dan sarana penunjang yang lain pasti protes. Adu pak Martin itu kalau di kota, kami yang di hutan ini sulit.

Tenang saya berikan solusinya.

Simak penjelasannya berikut:
Bapak-ibu guru yang bertugas di daerah pedalaman tidak perlu buat video, atau menyuruh anak murid nonton di youtube. Cukup meminta peserta didik bercerita.

Contoh:
Markus, ceritakan aktifitasmu mulai bangun pagi sampai berangkat ke sekolah hari ini. Saran saya buat suasana rileks dan bersahabat agar anak bisa leluasa menceritakan aktifitasnya.

Si Markus akan berkata, saya bangun pagi bantu mama menjaga adik, setelah itu pukul 06.00 saya mandi, sarapan; kemudian berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah orang pertama yang saya temui adalah Anton.

Saat anak sudah cerita seperti di atas, itu sudah menjadi media belajar pada materi unsur intrinsik.
1.     Markus dan aktifitasnya bisa dijadikan tema.
2.     Markus Anton, mama, dan adik adalah tokoh atau orang yang terlibat dalam cerita si Markus.
3.     Mulai bangun pagi, sampai si Markus berangkat ke sekolah adalah alur.
4.     Di rumah, di sekolah, pagi hari adalah latar atau tempat dan waktu dari cerita si Markus...
5.     Amanat, pesan yang bisa bapak dan ibu guru sampaikan pada peserta didik yang lain dari kisah si Markus adalah membantu orang tua adalah kewajiban seorang anak.
6.     Dan seterusnya sampai semua unsur intrinsik dijelaskan.

Jadi bapak ibu tidak perlu menjelaskan unsur intrinsik adalah....,

anak-anak ngantuk kalau gaya mengajar bapak ibu guru membosankan. Apalagi pakai metode ceramah itu sangat tidak disukai oleh siswa.

Coba cara ini siapa tahu bisa jadi solusi alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Teknik Bermain Peran.
Teknik bermain peran intinya sama dengan teknik ngopi bareng (lihat penjelasan teknik ngopi bareng di atas). Bedanya ini live, maksudnya bapak ibu bisa menyuruh anak-anak langsung bermain peran di depan kelas.
Lihat gambar berikut.
Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah
Pentas drama siswa-siswi SMP N 1 Fef Papua Barat/dok pribadi
Gambar tersebut adalah teknik bermain peran. Saat saya bertugas di pedalaman Fef Papua Barat, ceritanya bisa dilihat di sini.

Jangankan bicara internet, sinyal hp dan kios (Jakarta disebut warung) untuk menjual sembako saja tidak ada. Jadi tidak mungkin saya menyuruh anak-anak membuat video kemudian dimasukan ke youtube. Teknik yang saya pakai adalah bermain peran.

Setelah proses bermain peran selesai, adegan demi adegan selesai. Barulah saya jelaskan unsur intrinsik. Di sini anak-anak paham karena mereka melakukan; saya hanya memberitahu bagian ini disebut ini jika dalam sastra. Jadi saya tidak menggurui tetapi menyampaikan.

Kesimpulan:
1.     Karya sastra dihasilkan dari kehidupan nyata, melalui prinsip dasar; dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Artinya sastra bukan pekerjaan menghayal tetapi tiruan kehidupan yang dikonversi kembali dalam bentuk tulisan maupun video.

2.     Sastra dibentuk dari dua unsur, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi, tema, tokoh, penokohan, latar, alur, dan amanat. Semuanya adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan.

3.     Sastra adalah materi penting dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Oleh karena itu, teknik pengajaran dan metode mengajar yang disesuaikan dengan zaman harus dilakukan guru untuk meningkatkan minat belajar siswa, salah satunya metode belajar bermain peran dan ngopi bareng siswa.

4.     Percayalah bapak ibu guru, teknik pembelajaran yang melibatkan anak akan memudahkan mereka untuk mengingat apa yang dilakukan daripada teknik ceramah satu arah dengan memposisikan guru sebagai satunya sumber belajar.

Wajarkah menjadi guru di era digital semantara metodenya adalah cermah melulu?.

Ini cara-cara lama yang membuat murid mengantuk dan tidak ingat apa-apa.

Jadi guru puluhan tahun tetapi mengulangi cara-cara lama puluhan kali. Inikah yang disebut guru era baru?

***
Mari Merenung dan mohon maaf tidak bermaksud menggurui, Ini hanyalah coretan tidak jelas dari seorang guru kampung. Salam literasi @
Jakarta, 21 – 10 - 2018

Martin Karakabu
Guru Kampung

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengajari Sastra dengan Teknik Ngopi Bareng Siswa: Solusi Alternatif Bagi Guru Bahasa Indonesia di Sekolah"

Post a Comment

Mohon maaf, saya akan hapus link aktif, promosi-promosi dagang, dan komentar yang tidak sesuai dengan postingan saya. Tinggalkan kesan sebagai intlektual. Silahkan berkomentar,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel